Kamis, 15 April 2010

Pengelolaan Sistim Kepemimpinan ABS-SBK Oleh Tungku Tigo Sajarangan

Oleh : Darwin Chalidi

1. Pengantar

Nilai-nilai budaya Minangkabau terkenal dengan Motto “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah (ABS-SBK). Motto ini berbasiskan penghayatan Islam yang diharapkan menjadi bekal utama dalam kehidupan dan menjadi sangat relevan sekali bagi orang Minang karena sebagai bagian dari keyakinan dan keimanan mereka kepada Allah SWT. Motto yang berbasiskan keimanan diyakini akan menjadi panutan hidup bermasyarakat serta beradat sebagai tuntunan bagi orang-orang Minang dimanapun dia berada.

Dengan menghayati motto yang sangat unik ini diharapkan sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat Minangkabau tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium "Adat basandi Syara' ", dan "syara' mamutuih, Adat memakai !". Nilai-nilai budaya ABS-SBK, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang, “force of motivation,” penggerak yang mendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan & hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan. (Kutipan dari tulisan buya Mas’oed)

Sebagai harapan maka sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau ini, dapat menjadi kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Tulisan ini kami rangkum sebagai evaluasi untuk telaahan para pakar dalam membangun karakter orang Minang. Bagaimana tatanan budaya atau atau “deployment” Motto ABS-SBK yang harus dilakukan oleh Tungku Tigo Sajarangan masuk kedalam kehidupan keseharian anak kemenakan Minangkabau yang kita cintai bersama ini.

2. Apa & Bagaimana Motto ABS-SBK supaya dapat dijadikan karakter orang Minang.

Gagasan Budaya Minangkabau yang sampai kekita jaman ini adalah berdasarkan Sumpah Sati Marapalam (SSM) yang diceritakan dalam tambo, Gagasan Minangkabau modern ini tidak ada bukti berbentuk tulisan dalam sajarah modern Minangkabau. Buya Mas'ud pernah memperkirakan pertemuan SSM ini adalah tahun 1816. (Kutipan diskusi Bundo Kanduang)

Sumpah Sati Marapalam ini sebagai cikal bakal ABS-SBK ini dideklarasikan bersamaan waktunya dengan Gerakan Paderi yang dimulai tahun 1803 sampai 1821, dilanjutkan dengan Perang Paderi tahun 1821 sampai 1845.

Gagasan dan cita-cita para niniak mamak orang Minangkabau sebagai pencetus ABS-SBK bagi anak kemenakan Minangkabau mempunyai tekad yang begitu besar. Cita-citanya terutama adalah rasa tanggung jawab untuk memajukan ummat Islam di Minagkabau, sebagai upaya luhur dalam mencari ridha Allah. Cara yang dipilih untuk mewujudkan cita-cita tersebut dengan melalui pengembangan budaya unik Minangkabau dengan konsep pelaksanaan Budaya ABS-SBK.

Berbicara mengenai budaya maka diharapkan seluruh kehidupan di Minangkabau diilhami dari konsep budaya ABS-SBK terbut . Sesuai dengan tulisan Buya Mas’oed budaya yang cocok untuk kehidupan di Minagkabau didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan & hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan.

Kalau kita setuju dengan tulisan buya tersebut maka sifat-sifat yang dituntut oleh ABS-SBK bagi anak kemenakan Minangkabau dimanapun dia berada adalah sebagai berikut;

a. Menghindarkan pemborosan.
Jiwa ini berarti penuh keikhasan, yakni berbuat sesuatu bukan karena hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu sehingga memboroskan sumber daya alam yang terbatas dimanapun dia berada. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Jiwa menghindarkan pemborosan ini menciptakan suasana kehidupan anak negeri yang harmonis antara niniak mamak, urang sumando, anak kemenakan dan bundo kanduang. Seluruh elemen orang Minang berusaha untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat. Jiwa ini menjadikan orang Minangkabau senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.

b. Kebiasaan menyimpan & hidup berhemat
Jiwa ini berarti menjaga kehidupan orang Minang diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau menerima keadaan, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan .

c. Memelihara modal supaya jangan hancur
Memelihara modal supaya jangan hancur atau dengan kata lain berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan oleh nagari Minangkabau kepada para anak kemenakannya. Berdikari tidak saja berarti bahwa orang Minang sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi nagari Minangkabau itu sendiri sebagai lembaga pendidikan bagi anak negeri siapapun dia dan sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain. Inilah konsep ekonomi kerakyatan Minang (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai). Dalam pada itu, Minangkabau tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam nagari dikerjakan oleh niniak mamak beserta anak kemenakan sendiri.

d. Melihat jauh kedepan
Melihat jauh kedapan sama dengan bersifat bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat.. Jiwa bebas ini akan menjadikan orang Minang berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini harus berhati-hati karena seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja. Oleh karena dapat melihat jauh kedepan maka orang minang akan menjadi tawadhu dan iklhas dalam menjalankan syariat Islamnya.

Jiwa yang meliputi suasana kehidupan ber orang Minang itulah yang harus dibawa oleh anak kemenakan Minang sebagai bekal utama di dalam kehidupannya. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya dengan dimotori dan diayomi oleh Para Pemimpin Tungku Togo Sajarangan.

3. Apa Yang harus dilakukan untuk mengembalikan karakter orang Minang sesuai dengan ABS-SBK.

Untuk mengembalikan karakter orang minang kembali ke ABS-SBK adalah tugas berat dan berjangka panjang yang perlu menjadi acuan Tungku Tigo Sajarangan untuk menjadikan Motto dan Nilai berikut menjadi bagian keseharian dari kehidupan orang;

Motto “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah (ABS-SBK)

Nilai-nilai yang menjadi langkah aksi setiap perbuatan orang Minang adalah;
1. Menghindarkan pemborosan.
2. Kebiasaan menyimpan & hidup berhemat
3. Memelihara modal supaya jangan hancur
4. Melihat jauh kedepan

Tidak ada hal yang unik dari nilai-nilai yang harus dilaksanakan oleh orang minang karena sangat universal sifatnya sehingga tidak akan ada konflik dengan masyarakat non-minang. Yang penting bagaimana membuat nilai-nilai diatas tercermin dalam kehgidupan keseharian seluruh masyarakat minang. Untuk menterjemahkan nilai2 ini kedalam kehidupan keseharian orang minang adalah mencoba hidup dengan aturan2 yang bersumber dari nilai-nilai tersebut, antara lain;

1. Menghindarkan pemborosan.
Untuk menjadikan nilai ini menjadi keseharian dalam kehidupan orang Minang maka mereka harus memperlihatkan dua tingkah laku:
a. Efisien – Efisien dalam menggunakan waktu, uang, dan sumber daya yang dimiliki sebenar-benarnya untuk kemasylahatan umat.
b. Influencer – Influencer (mempengaruhi) yang handal untuk medorong semua pihak terkait didalam nagari menjadi efisien sehingga hari ini lebih baik dari kemaren sesuai dengan Syariat Islam

2. Kebiasaan menyimpan & hidup berhemat
Orang Minang akan memperlihatkan secara nyata diikuti tingkah laku yang mencerminkan dua hal berikut:
a. Komit – Selalu amanah dan komit untuk melaksanakan kewajiban.
b. Kerja Keras – Selalu bergerak untuk berkarya sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma

3. Memelihara modal supaya jangan hancur
Orang Minang sebagai pedagang yang ulet dan sudah menjadi trade mark dimana-mana di negeri ini selalu melihatkan tindakan2 berikut dalam kesehariannya
a. Inovator – Orang Minang itu selalu melakukan inovasi dalam melihat peluang dan memelihara kemampuan ini serta menurunkannya keanak dan cucu untuk kemashlahatan umat
b. Cerdas – Kecerdasan adalah sumberdaya utama orang Minang yang didapat dari usaha belajar yang tekun dan selalu mencari yang terbaik

4. Melihat jauh kedepan
Sebagai orang Minang yang terkenal perantau maka perlu menunjukkan kebiasaan kebiasaan berikut dalam kesehariannya
a. “Respect” – Menghargai orang lain termasuk dan tidak terbatas kepada ide, ilmu, dan hasil karya mereka
b. Dipercaya – Selalu membuktikan bahwa mereka sangat dapat dipercaya serta amanah.

4. Apa yang harus dilakukan untuk membentuk kembali karakter orang Minang sesuai dengan ABS-SBK.

Pengembalian karakter orang Minang sesuai dengan ABS-SBK membutuhkan kerja keras seluruh elemen masyarakat Minag dimanapun dia berada. Pekerjaan membudayakan umat Minang berbasiskan SBS-SBK ini perlu waktu dan seluruh pihak harus menyetujuinya.
Langkah-langkah yang perlu diambil dibagi dalam tiga tahap

Tahap I Penerimaan, Penghargaan & Penalti (Reward & Punishment) budaya ABS-SBK
Tahap II Sistim monitor & pengawasan budaya ABS-SBK
Tahap III Sistim kesinambungan karakter ABS-SBK

Berikut ini kiat2 untuk memastikan terjadinya pelaksanaan karakter tersebut secara benar dan ter-arah

Tahap I - Penerimaan, Penghargaan & Penalti (Reward & Punishment) budaya ABS-SBK

Tahap pertama yang paling krusial dan tidak boleh diliwati adalah kesediaan dan kesiapan masyarakat yang merasa dirinya orang Minang untuk menerima budaya ABS-SBK ini secara utuh termasuk dan tidak terbatas dengan menerima konsekuensi moral akibat tidak melaksanakan Motto “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah (ABS-SBK) serta nilai-nilai yang mendukung motto.

Maksud menerima motto dan nilai ini oleh orang Minang dimanapun dia berada adalah secara sukarela mau terlibat dan aktif melaksanakan nilai-nilai yang teridiri dari 8 (delapan) nilai yaitu Efisien, ”Influencer”, Komit, Kerja Keras, Inovator, Cerdas, “Respect,” & Dipercaya. Tidak ada yang baru dari nilai-nilai ini yang diturunkan dari ABS-SBK, nilai yang dikehendaki oleh kita yang mengaku orang Minang, kalau semua sudah setuju menganut ABS-SBK adalah sangat universal sifatnya dan dapat dengan mudah menjadikan anak nagari Minangkabau sudah mempunyai modal dalam kompetisi global.

Penghargaan yang bagaimana dapat diberikan kepada anak nagari Minangkabau yang berhasil melaksanakan nilai-nilai yang delapan tersebut. Penghargaan yang perlu dikemukakan adalah keberhasilan mereka menjadi orang2 yang optimis karena berhasil dalam kehidupan mereka akibat langsung dari melaksanakan budaya ABS-SBK. Penghargaan lain secara moral adalah diakuinya mereka sebagai orang Minang yang berkarakter sehingga dicari-cari oleh relasi mereka untuk berusaha.

Akhirnya masyarkat Minang harus memberikan penalti baik secara moral maupun bentuk lain kepada orang-orang Minang yang tidak melaksanakan budaya ABS-SBK. Bentuk penalti ini adalah hal yang paling berat tetapi karena nilai-nilai yang dianut sudah memberikan modal seperti Provokatif dan Cerdas sehingga pelaksanaan penalti kepada dunsanak, anak-kemenakan yang tidak ikut berbudaya akan dapat dilaksanakan dengan cantik dan elegan.

Realisasi dari tahap I ini sangat tergantung kepada situasi masyarakat Minang setempat, bisa cepat kalau Tungku Tigo Sajarangan dihargai secara utuh oleh anak nagarinya, sedangkan bagi nagari lain yang masih dalam proses penyatuan akan berjalan lambat dan mungkin menjadi proses yang tidak akan pernah selesai. Disinilah kesatuan umat Minang sangat diperlukan untuk mengangkat nagari2 yang sangat ketinggalan dalam pembentukan Tungku Tigo Sajarangan.

Tahap II Sistim monitoring & pengawasan budaya ABS-SBK

Tahapan ke dua inilah kunci dari keberhasilan pelaksanaan sistim kepemimpinan Tungku Tigo Sarangan berbasis ABS-SBK.

Kunci pelaksanaan budaya atau karakter di masyarakat apalagi masyarakat luas seperti Minangkabau ini adalah dengan pendekatan patronisme, artinya dimulai dari pimpinan yang melakukan internalisasi budaya yang dikehendaki. Salah satu dari perusahaan besar dengan jumlah karyawan seluruh dunia mencapai 500,000 orang sangat berkarakter sehingga kita langsung dapat menerka mereka dari perusahaan tersebut karena tercermin dari tindakan2 keseharian mereka.

Atau sebuah bangsa yang sangat berkarakter adalah Jepang yang rakyatnya sangat berkarakter dan sangat tahu apa yang akan mereka lakukan untuk kesehariannya. Salah satu bangsa yang juga sudah terformulasi budaya atau karakter adalah Singapura yang tidak begitu jauh dari ranah Minangkabau.

Bagaimana mereka membentuk budaya tersebut adalah dengan menunjukkan karakter yang diinginkan untuk bangsanya, dan itu dimulai oleh bapak bangsa yaitu Mr. Lee Kuan Yeuw dan sekarang bangsa itu sudah tertanam budaya yang sangat lentur menghadapi globalisasi.

Kembali kepada ranah Minang, disinilah peran dan fungsi Tungku Tigo Sajarangan (TTS) sebagai struktur tertinggi dari adat Minangkabau. Sebelum kita membicarakan role dan fungsi TTS maka kita perlu melihat sekilas siapa dan bagaimana struktur TTS ini. Menurut Buya Mas’oed mereka adalah urang nan 4 Jinih (Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Para Pemuda dan Bundo Kanduang), yang semuanya merupakan tali tigo sapilin, didalam susunan bernagari dan menjadi tungku tigo sajarangan sebagai salah satu struktur masyarakat adat di Minangkabau.

Sistim pengawasan dan monitoring dapat kita pisah-pisahkan berdasarkan strutur TTS yaitu:

a. Bidang Karakter Umat oleh Ninik Mamak dan Alim Ulama
b. Bidang Karakter Pembangunan oleh Cadiek Pandai dan Pemuda
c. Bidang Karakter Pendidikan oleh Bundo Kanduang

Berikut ini adalah penjelasan masing-masing Bidang sesuai dengan fungsi strutur TTS

a. Bidang Karakter Umat oleh Ninik Mamak dan Alim Ulama

Sistim monitoring & pengawasan budaya bidang Karakter Umat, harus dimulai internalisasi delapan nilai-nilai yang telah dijelaskan diatas oleh para pemangku Ninik Mamak dan Alim Ulama. Karena mereka menjadi panutan oleh orang nagari, maka tidak bisa tidak mereka harus menjadi contoh melakukan tindakan-tindakan keseharian berdasarkan delapan nilai.

Secara berkala para Ninik Mamak dan Ulama harus meminta masukkan dari orang nagari baik secara formal maupun informal bagaimana pandangan mereka terhadap pelaksanaan budaya ABS-SBK mereka. Umpan balik dari seluruh masyarakat nagari akan secara tidak langsung melakukan sosialisasi mengenai delapan nilai ABS-SBK tersebut.

b. Bidang Karakter Pembangunan oleh Cadiek Pandai dan Pemuda

Sistim monitoring & pengawasan budaya bidang Karakter Pembangunan Nagari adalah fungsi utama Cadiak Pandai dan Pemuda yang juga sebagian besar merupakan pimpinan formal nagari (Umaro), Melalui sistim birokrasi nagari maka karakter atau budaya ABS-SBK dapat disosialisasikan, caranya sama yaitu dengan para Cadiak Pandai dan Pemuda melakukan internalisasi delapan nilai-nilai dalam pelaksanaan tugas keseharian mereka.

Secara berkala para Cadiak Pandai dan Pemuda harus meminta masukkan dari jajaran birokrasi baik secara formal maupun informal bagaimana pandangan mereka terhadap pelaksanaan delapan nilai budaya ABS-SBK mereka. Umpan balik dari seluruh jajaran birokrasi juga secara tidak langsung telah melakukan sosialisasi mengenai delapan nilai ABS-SBK tersebut.

c. Bidang Karakter Pendidikan oleh Bundo Kanduang

Sistim monitoring & pengawasan budaya bidang Karakter Pendidikan adalah fungsi utama Bundo Kanduang yang juga sebagian besar merupakan tulang punggung keluarga, Melalui rumah tangga maka karakter atau budaya ABS-SBK dapat disosialisasikan, caranya sama yaitu dengan para Bundo Kanduang melakukan internalisasi delapan nilai-nilai dalam pelaksanaan tugas keseharian mereka didalam rumah tangga.

Secara berkala para Bundo Kanduang melakukan diskusi dengan anak-anak mereka untuk mendiskusikan secara informal bagaimana pandangan mereka terhadap pelaksanaan delapan nilai budaya ABS-SBK oleh para Bundo Kanduang. Umpan balik dari anak-anak juga secara tidak langsung telah melakukan sosialisasi mengenai delapan nilai ABS-SBK tersebut kepada mereka dalam dimulai dari rumah tangga.

Tahap III Sistim kesinambungan karakter ABS-SBK

Tahap ketiga yang juga sangat krusial dan tidak boleh diliwati adalah menjaga sustainability dari budaya ABS-SBK. Diawal pelaksanaan budaya ABS-SBK seluruh anak nagari Minangkabau sangat komit untuk melaksanakan dan budaya ini berhasil merasuk kedalam qalbu mereka. Seingat penulis, diwaktu kecil pendidikan budaya ABS-SBK diajarkan di surau-surau sebelum tidur.

Kebiasaan tidur disurau bagi anak-anak laki yang telah bersunat merupakan keharusan. Pelajaran budaya ABS-SBK jaman sisuak itu memang dimulai dari surau dan ternyata berhasil. Kebiasaan mendidik pemuda disurau jaman dulu secara tiba-tiba berhenti sewaktu adanya pergolakan daerah di tahun 1957an. Sehingga sustainability budaya ABS-SBK tersebut secara perlahan-lahan mulai kabur atau menghilang dari nagari Minangkabau.

Tugas mempertahankan budaya ABS-SBK tersebut merupakan suatu pergolakan tersendiri dan perlu dibahas secara tersendiri.

5. Penutup.

Sebagai penutup untuk dapat diingat bersama dalam Mengelola Budaya untuk masyarakat (Managing Values) berdasarkan gagasan dan cita-cita para niniak mamak orang Minangkabau sebagai pencetus ABS-SBK bagi anak kemenakan Minangkabau yang mempunyai tekad begitu besar. Cita-citanya terutama adalah rasa tanggung jawab untuk memajukan ummat Islam di Minagkabau.

Generasi awal pencetus ABS-SBK ini berhasil menanamkan nilai-nilai budaya ini, karena Tigo Tungku Sajarangan sangat mengabdikan dirinya untuk kemajuan anak nagari. Sayang karena adanya pergolakan di era tahun 1957an akar budaya orang Minang tercerabut sehingga hilang dari masyarakat.

Pengembalian budaya atau karakter orang Minang dengan 8 (delapan) nilai-nilai yaitu Efisien, ”Influencer”, Komit, Kerja Keras, Inovator, Cerdas, “Respect,” & Dipercaya hanya dapat terlaksana kalau Tigo Tungku Sajarangan melakukan internalisasi dalam diri mereka nilai-nilai ini secara khaffah. Kalau itu tidak dilakukan maka jangan harap masyarakat Minangkabau akan berobah.

Demikanlah sumbangsih sedikit dari kami, semoga pembahasan sistim kepemimpinan berbasiskan budaya untuk membentuk karakter sebuah nagari berdasarkan pengalaman penulis yang pernah berkarya diperusahaan kelas dunia dan juga konsultan budaya bagi perusahaan-perusahaan dapat membantu terciptanya budaya ABS-SBK bagi nagari Minangkabau.

Darwin Chalidi – Character Building & Human Resource Management Consultant di Jakarta. Urang Minang yang gadang dirantau

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar