Selasa, 01 September 2009

QIYAMU RAMADHAN

Lafazh Qiyam berasal dari kata kerja (fi'il) qaa-ma, artinya : tegak atau berdiri. Kata qiyam juga merupakan bentuk jama' dari kata qaa-imun, artinya: yang tegak, yang berdiri. Kata Lail dalam bahasa Indonesia biasanya diartikan malam, yaitu masa atau waktu yang datang sesudah siang. Maksud dengan "qiyam" dalam bahasan ini adalah shalat, karena pada asalnya shalat itu harus dikerjakan berdiri. Jadi yang dimaksud dengan qiyamul-lail ialah shalat yang dikerjakan pada waktu malam dengan shifat, kaifiyat dan rakaat tertentu sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Berkenaan dengan qiyamul-lail Allah berfirman dalam surat al-Furqan ayat 63-64 yang artinya : 63. dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. 64. dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan firman-Nya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18).
Sebuah riwayat yang dicatat dalam Sunan Tirmidzi dari Abdullah bin Salam ra dikatakan bahwa sesampainya Rasulullah SAW (pertama kali) di kota Madinah, orang-orang terkejut dengannya sambil mengatakan, “Telah tiba Rasulullah SAW., Telah tiba Rasulullah SAW.” lalu aku pun menemui orang-orang untuk melihatnya ketika melihat wajah beliau aku melihatnya tidak ada tanda-tanda kebohongan, dan saya masih ingat kata-kata pertama yang beliau sampaikan adalah, “Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan orang-orang miskin, dan shalatlah di saat orang-orang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi). Berdasarkan penjelasan tergambar bahwa qiyamullail memiliki keistimewaan yang besar. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya telah telah lalu.” (Muttafaq Alaih).
Ditetapkan juga bahwa Nabi SAW pernah melakukan qiyam Ramadhan berjama’ah dengan para sahabatnya, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA. bahwasanya Rasulullah SAW keluar pada tengah malam, kemudian shalat tarawih di masjid, maka para sahabat pun shalat bersamanya, beredarlah berita ini di kalangan sahabat lain, jadilah malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama, dan malam ketiga lebih banyak dari malam kedua, ketika di malam keempat, masjid tidak muat menampung para sahabat, Nabi SAW tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk menunaikan shalat Subuh, setelah selesai menunaikannya beliau menghadap para sahabat lalu bertasyahhud (membaca dua kalimat syahadat) dan berkata, sesungguhnya kedudukan kamu tidak saya khawatirkan tetapi yang saya khawatirkan adalah diwajibkannya pada kamu (shalat tarawih) kemudian kamu tidak mampu melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Shalat Lail bisa disebut juga shalat tahajjud, shalat witir, qiyamul lail. Pada bulan ramadhan shalat lail biasa disebut dengan Qiyamu Ramadhan atau shalat tarawih. Hukum Qiyamu Ramadhan adalah sunah yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan, tidak wajib. Orang yang melakukan qiyamu ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha dan pahala Allah SWT, diampuni dosanya yang telah lalu.

Sesungguhnya keutamaan shalat, termasuk shalat sunnah, disyari’atkan untuk mendidik jiwa, membersihkan hati dari kedengkian, kebencian, permusuhan dan yang lainnya, serta menumbuhkan persaudaraan, menjalin kasih sayang di antara sesama muslim, jelas ini adalah salah satu tujuan ibadah. Seandainya seseorang pergi shalat (tarawih) dengan hati yang ikhlas dan jiwa bersih, sangat tidak mungkin moment yang baik ini digunakan pula untuk berbuat maksiat, bertengkar, berbantah-bantahan sesama muslim, dan saling memojokkan, misalnya tentang shalat tarawih baik jumlah raka’atnya atau caranya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi apa yang terjadi sebelum pergi ke masjid mereka bertanya dulu siapa imamnya? Berapa raka’at 11 atau 23 raka’at? Lama atau sebentar? Dan seterusnya. Atau mereka meminta langsung ke imam untuk melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tertentu. Naudzubillah minasyaithanirrajim.

PUASA YANG DITERIMA

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. 2: 183)
Ramadhan secara bahasa berarti membakar atau mengasah. Berkenaan dengan hal ini, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa pada bulan inilah dosa manusia pupus habis terbakar karena kesadaran dan amal shalehnya. Selain itu, bulan Ramadhan “seringkali” dijadikan sebagai waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia. Bulan Ramadhan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang dipersilahkan untuk menabur, kemudian pada waktunya akan menuai sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
Suatu hal yang penting dalam bulan Ramadhan, tentunya, adalah bagaimana merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, perlu menyusun menu rohani dan ibadah kita. Jika menu buka dan sahur sering lebih istemawa dibanding dengan makanan keseharian, tentunya, kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci ini dengan kualitas yang lebih baik daripada hari-hari biasa. Dengan begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini dengan lebih sempurna. Meskipun perbuatan yang membatalkan puasa lebih banyak aktivitas fisik, Islam memerintahkan selama menjalani ibadah puasa, kaum muslimin menjauhi perbuatan yang mungkin akan menyakitkan orang lain, baik fisik maupun kata-kata, serta menganjurkan memperbanyak perbuatan baik dan memperbaiki etika sosial, misalnya melarang marah dan mengucapkan perkataan kasar dan kotor. Sebuah hadits nabi menyatakan bahwa “banyak di antara umat umat Islam yang tidak mendapati apa-apa (hasil) dari puasanya, kecuali rasa lapar dan haus.” Agar puasa tidak hanya menghasilkan rasa haus dan lapar belaka, maka umat Islam harus mengikutsertakan pikiran, hati, dan semua anggota badannya seperti lidah, mata, telinga, tangan, dan kaki. Semuanya ikut berpuasa dari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam.
Di samping memenuhi syarat dan rukun puasa, supaya shaum-nya diterima, shaa-im perlu melengkapi puasanya dengan mengikutsertakan pikiran, hati, dan semua anggota badannya seperti lidah, mata, telinga, tangan, dan kaki. Semuanya ikut berpuasa dari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Orang yang berpuasa (shaim) tidak boleh mempunyai pikiran jahat, bahkan, terbesit keinginan berbuat jahat, apalagi merencanakan sebuah kejahatan, menjaga hati dari sifat dengki, hasad, benci tanpa alasan yang dibenarkan syar’i, serta dendam. Kemudian menutupi mata dari pandangan yang dilarang oleh agama seperti pertunjukan yang merangsang nafsu. Menjaga lidah dari perkataan jorok, ghibah, tidak mengadu domba (namimah), dan sebagainya. Jadi, hakikat dari puasa, sebagaimana tersirat dalam makna dasar kata “ash-shiyam”, adalah pengendalian diri (self control). Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa “Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan sia-sia serta menjauhi perbuatan yang kotor dan keji,” (HR Al Hakim). Ibarat yang sering dilontarkan, bahwa, sejatinya umat Islam harus menjadikan bulan Ramadhan sebagai “kepompong”. Seperti halnya ulat akan menjadi kupu-kupu indah setelah keluar dari kepompong, maka umat Islam setelah melewati bulan Ramadhan idealnya akan menjadi manusia yang lebih “indah” dari sebelumnya. Manusia yang selalu melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya yang di ajaran Islam disebut sebagai manusia yang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 183 di awal tulisan.
Akhirnya, sampailah kita untuk mengatakan bahwa kunci atau roh ibadah puasa adalah ikhlas. Walaupun semua kelengkapan tersebut dilaksanakan, kalau shaaim tidak ikhlas, maka puasa nya akan menjadi sia-sia. Puasa yang ikhlas maksudnya adalah puasa yang semata-mata dijalankan karena Allah SWT saja, tidak ada motivasi lain kecuali mencari ridha-Nya.