Selasa, 16 Juni 2009

SAYYID AHMAD KHAN DAN ALIGARH

A. Pendahuluan
Pada permulaan abad ke-19 imperium Mughal di anak Benua Indo-Pakistan secara pasti memasuki fase keruntuhan. Walaupun nama dan bayangannya masih tetap nampak, khususnya di Delhi untuk setengah abad kemudian, namun kekuasaanya yang riil telah musnah. Kerajaan-kerajaan kecil, seperti Rajput, Jat, Maratha, Sikh serta lainnya, yang muncul akibat kerapuhan para emperor Mughal setelah Awrangzeb, secara bertahap dilindas oleh East India Company yang mulai membentuk koloninya di Indo – Pakistan pada tahun 1757. Setelah pemberontakan 1857, imperium Mughal secara resmi bertekuk lutut di bawah penjajahan Inggeris.
Dengan runtuhnya imperium Mughal, masyarakat Muslim Indo-Pakistan pun ikut runtuh. Kemegahan budaya, intelektual dan kekuasaan mereka memudar dengan cepat. Sebaliknya, orang-orang Hindu, yang pada masa kejayaan Islam di anak benua India merupakan masyarakat kelas bawah, kecuali pada Akbar, kini mulai mendominasi seluruh lapangan kehidupan. Hal ini memang bertentangan dengan sejarah masa lalu mereka.
Akan tetapi, “penganakemasan” orang Hindu oleh Inggeris serta kurangnya respons kaum muslimin terhadap kekuasaan dan institusi-institusi Inggeris, ditambah lagi dengan ketidakmampuan warisan keagamaan tradisional dalam menjawab tantangan zaman mengakibatkan tenggelamnya masyarakat Muslim Indo-Pakistan. Inilah yang menandai mulainya sejarah kontemporer umat Muslim di anak benua India. Pergantian rezim ini menggerakkan beberapa kekuatan yang menimbulkan perubahan sejumlah praktek keagamaan dan struktur sosio politik umat Muslim di anak benua ini dan pada ujungnya mengantarkan pada pembentukan tiga negara nasional, dua di antaranya didominasi oleh mayoritas Muslim, sedang satu di antaranya umat Muslim berada pada posisi minoritas.[1]
Dalam peta pembaharuan di anak Benua India ini muncullah “dewa-dewa penyelamat” yang mengajak kaum Muslimin kembali kepada semangat asli Islam untuk merebut kejayaan yang pernah dimiliki serta menjawab tantangan-tantangan zaman yang dihadapi khususnya yang datang dari Barat. Implementasi ajakan ini berupa reorientasi dan reformasi pemahaman terhadap warisan-warisan keagamaan yang dimiliki kaum Muslimin pada Bangsa Indo-Pakistan. Salah seorang tokoh pembaruan yang terkenal di anak benua adalah Sayyid Ahmad Khan, yang terkenal lewat Gerakan Madrasah Aligarh yang melahirkan tokoh-tokoh pembaharu selanjutnya.
B. Sayyid Ahmad Khan dan Ide Pembaharuannya
1. Riwayat Hidup Sayyid Ahmad Khan
Sayyid Ahmad Khan lahir di Delhi pada tahun 1817 dan menurut keterangan ia berasal dari keturunan Husein, cucu Nabi Muhammad melalui Fatimah dan Ali. Neneknya Sayyid Hadi adalah Pembesar Istana di zaman Alamghir II (1754- 1759). Ia mendapat didikan tradisional dalam pengetahuan agama dan di samping Bahasa Arab ia juga belajar Bahasa Persia. Sayyid Ahmad Khan adalah orang yang rajin membaca. Ketika usianya 18 tahun ia bekerja pada Serikat India Timur, kemudian bekerja pula sebagai hakim, tetapi pada tahun 1846 ia pulang kembali ke Delhi untuk meneruskan studi. [2]
Pada masa Pemberontakan 1857 ia berusaha mencegah terjadinya kekerasan dan banyak menolong orang Inggris dari pembunuhan. Pihak Inggeris menganggap ia telah banyak berjasa dan ingin membalas jasa tersebut, tetapi hadiah yang dianugerahkan Inggeris ditolaknya, ia hanya menerima Gelar Sir dari pemerintahan Inggeris dari berbagai hadiah yang ditawarkan tersebut. Hubungannya dengan pihak Inggeris sangat baik dan inilah yang dipergunakannya untuk kepentingan ummat Islam India.[3]
Ahmad Khan berpendapat bahwa usaha peningkatan kedudukan dan kesejahteraan ummat Islam India dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggeris sebagai penguasa di India. Dalam fikirannya, menentang kekuasaan Inggeris tidak akan membawa kebaikan bagi ummat Islam India tetapi akan menjadikan umat Islam semakin mundur serta akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India. Selain itu dasar ketinggian dan kekuatan Barat, termasuk di dalamnya Inggeris, adalah ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sehingga untuk mendapatkan kemajuan, ummat Islam harus pula menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Jalan yang harus ditempuh ummat Islam memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan itu bukanlah bekerja sama dengan Hindu dalam menentang Inggeris tetapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan Inggeris.
Untuk mewujudkan cita-citanya, ia menerbitkan majalah “Tahzib al-Akhlak”. Pada tahun 1875, ia mendirikan lembaga pendidikan Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) yang kemudian berkembang menjadi Universitas Aligarh. Untuk mengukuhkan ide-idenya ia mendirikan All India Muhammadan Education Conference (1886). Ia juga tercatat sebagai anggota parlemen di Legislatif Council selama empat tahun (1878 – 1882). [4]
Beberapa hasil karya Sayyid Ahmad Khan adalah Atsar al-Sanadid (1874) yang merupakan hasil penelitiannya tentang arkeologi di Delhi dan sekitarnya, Essay on life of Muhammad (1870), Tafsir al-Qur’an sebanyak 6 jilid, Ibthal al-Ghulami (1890) dan Tabyin al-Kalam (1860). Selain itu juga menulis dua buku Tarikh Sarkhasi Bignaur (1858) dan Asbab Baghawad Hind (1858).[5] Dari hasil karyanya ini terihat pula bahwa Sayyid Ahmad Khan termasuk penulis yang produktif.
Ahmad Khan mengakhiri perjuangannya dengan berpulangnya ke rahmatullah pada tanggal 27 Maret 1898 setelah menderita sakit beberapa lama dalam usia 81 tahun, dan dimakamkan di Aligarh. [6]
Atas usaha‑usahanya dan atas sikap kooperatif yang ditunjukkannya terhadap Inggeris, Sayyid Ahmad Khan akhirnya berhasil dalam merobah pandangan Inggeris terhadap ummat Islam India. Sementara itu kepada ummat Islam dianjurkan agar tidak bersikap melawan tetapi sikap berteman dan bersahabat dengan Inggeris. Cita‑citanya untuk menjalin hubungan baik antara Inggeris dan ummat Islam dimaksudkan agar ummat Islam dapat merobah nasib dari kemunduran. Keinginan ini telah dapat diwujudkan Sir Sayyid pada masa hidupnya.
2. Ide-Ide Pembaharuannya
Sayyid Ahmad Khan melihat bahwa ummat Islam India mundur karena tidak mengikuti perkembangan zaman. Ummat Islam tidak menyadari bahwa peradaban Islam masa klasik telah runtuh dan digantikan peradaban modern yang berasal dari dunia Barat. Dasar peradaban baru ini ialah ilmu pengetahuan dan tekhnologi sebagai pondasi kokoh bagi kemajuan dan kekuatan orang Barat modern yang berasal dari hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu akal bagi Sayyid Ahmad Khan mendapat penghargaan tinggi, namun bagi sebahagian kalangan ummat Islam tradisional pada masanya berpegang teguh bahwa kekuatan akal bukan tidak terbatas.
Oleh karena itu, Ahmad Khan percaya pada kekuatan dan kebebasan akal, sungguhpun mempunyai batas, ia percaya pada kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam menentukan kehendak dan melakukan perbuatan. Dengan kata lain, ia mempunyai faham qa­dariah (free will and free act) dan tidak faham jabariah atau fatalisme. Manusia menurutnya dianugerahi Tuhan daya‑daya, seperti daya berfikir, yang disebut akal, dan daya fisik untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mempergunakan daya‑daya yang diberikan Tuhan kepadanya itu. [7]
Ahmad Khan menolak pula faham taklid bahkan tidak segan‑segan menyerang faham ini. Sumber ajaran Islam menurut pendapatnya hanyalah al-Qur’an dan Hadis. Pendapat ulama di masa lampau tidak mengikat bagi ummat Islam dan di antara pendapat mereka ada yang tidak sesuai lagi dengan zaman modern.[8]
Secara sederhana bentuk-bentuk ide pembaharuan Sayyid Ahmad Khan dapat pula dikembangkan sebagai berikut :
a. Bidang Keagamaan
Salah satu warisan keagamaan yang ditinjau dan diperbaharui kembali, dan sangat fundamental serta mencakup seluruh aspek Islam, adalah tafsir al-Qur’an. Untuk kegiatan ini, anak benua Indo-Pakistan dapat berbangga diri, karena amat produktif dalam menelorkan mufassir liberal dan radikal semisal Sayyid Ahmad Khan ini.[9]
Pembaharuan penafsiran al-Qur’an yang dilakukan adalah berusaha mengadaptasikan ajaran-ajaran al-Qur’an dengan tuntutan-tuntutan zaman modern. Ini terwujud dengan terbitnya volume pertama dari enam jilid tafsir karya Ahmad Khan pada tahun 1880.
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa al-Qur’an dan hadis merupakan sumber hukum Islam. Ia sangat selektif dalam menerima hadis. [10] Dengan munculnya hadis-hadis palsu, ia berpandangan bahwa tugas kaum muslimin sekarang dalam memelihara hadis adalah merumuskan “standar penilaian modern terhadap hadis-hadis” ia tidak menjelaskan standar tersebut. Oleh karena itu, ia hanya menerima hadis yang sesuai dengan nash dan ruh al-Qur’an, yang sesuai dengan akal dan pengalaman manusia, dan yang tidak bertentangan dengan hakikat-hakikat sejarah. Berkaitan dengan pembagian hadis kepada Mutawatir, Masyhur dan Ahad, ia berpendapat bahwa hadis Mutawatir dapat diterima, hadis Masyhur tidak dapat diterima kecuali setelah diadakan penelitian, sedangkan hadis Ahad tidak dapat diterima sama sekali.[11]
Menurut Sayyid Ahmad Hadis yang dapat diterima tersebut dibagi kepada dua bagian yaitu hadis yang berkaitan dengan agama dan hadis yang berkaitan dengan dunia. [12] Hadis yang berkaitan dengan ruang lingkup agama bersifat mengikat dan wajib diikuti, sedangkan hadis yang berkaitan dengan perkara dunia, tidak termasuk tugas kerasulan secara mutlak dan hanya berlaku khusus bagi kondisi dan keadaan bangsa Arab pada masa nubuwwah, dan tidak mengikat bagi seluruh kaum muslimin.[13]
Berkaitan dengan permasalahan fiqh, Sayyid Khan mempunyai pandangan tersendiri yang mendekatkan antara perkara-perkara dan dengan pemahaman peradaban barat, antara lain dalam masalah jihad, bunga bank, poligami dan had.
Dalam masalah jihad, ia memandang bahwa jihad hanya disyari’atkan untuk membela diri dan hanya dalam satu keadaan, yaitu ketika orang-orang kafir menyerang kaum muslimin dengan tujuan mengubah agama (mengkafirkan). Apabila penyerangan kaum kafir ini bertujuan lain seperti pendudukan wilayah, dan tidak bertujuan mengubah agama, maka jihad tidak disyari’atkan.[14] Sepertinya inilah yang mendorong Sayyid Khan untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Inggeris, karena menurutnya jalan inilah yang mencegah kehancuran umat Muslim India pada masa itu.
Dalam masalah riba, Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa riba yang diharamkan ialah riba yang berlipat ganda, yang dibayarkan oleh orang fakir sebagai imbalan atas hutangnya, sebagaimana adat yang tersebar di kalangan Bangsa Arab. Adapun bunga yang jumlahnya sedikit dalam mu’amalah perdagangan sekarang dan yang terdapat pada perbankan, bukanlah riba yang diharamkan.[15] Adapun masalah poligami, ia berpandangan bahwa pada dasarnya Islam mengatur perkawinan dengan satu wanita, dan mensyari’atkan keadilan bagi poligami. Berhubungan keadilan itu tidak mudah, maka poligami tidak diperbolehkan kecuali pada kondisi pengecualian, seperti istri sulit mendapatkan keturunan. Dalam masalah had (hukuman), Sayyid Ahmad Khan menolak hukum rajam bagi pezina. Dia bersandar pada dua dalil, yaitu pertama, rajam tidak disebutkan dalam al-Qur’an. Kedua, hadis-hadis tentang rajam hanyalah menceritakan tentang kebiasaan yang tersebar pada saat itu mengikuti Yahudi. Berdasarkan alasan itu pulalah, dia memandang bahwa diyat (denda) tidak lain hanyalah kebiasaan Bangsa Arab Kuno dan tidak sesuai lagi dengan kondisi masa sekarang.[16]
b. Bidang Pendidikan
Sebagai telah disebut di atas, Sayyid Ahmad Khan beranggapan bahwa jalan bagi ummat Islam India untuk melepaskan diri dari kemunduran dan selanjutnya mencapai kemajuan, adalah dengan memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Untuk mencapai tujuan ini maka sikap mental ummat yang kurang percaya kepada kekuatan akal, kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada adanya hukum alam, harus dirobah terlebih dahulu. Perobahan sikap mental itu diusahakannya melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel‑artikel dalam majalah Tahzib Al‑Akhlaq. Usaha melalui pendidikan juga tidak dilupakannya, bahkan pada akhirnya ke dalam lapangan inilah dicurahkannya perhatian dan usahanya. Salah satu jalan yang efektif untuk merobah sikap mental suatu bangsa menurut Sir Sayyid haruslah melalui pendidikan.
Pada tahun 1861 Sayyid Ahmad Khan mendirikan Sekolah Inggeris di Muradabad. Di tahun 1876 ia mengundurkan diri sebagai pegawai Pemerintah Inggeris dan sampai akhir hayatnya di tahun 1898, ia mementing­kan pendidikan ummat Islam India. Di tahun 1878, ia mendirikan sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di Aligarh yang merupakan karyanya yang bersejarah dan berpengaruh dalam upaya memajukan ummat Islam India. Sekolah itu mempunyai peranan penting dalam kebangkitan ummat Islam India, dan sekiranya tidak karena lembaga pendidikan tersebut ummat Islam India di Pakistan sekarang akan lebih jauh lagi ketinggalan dari ummat-­ummat lain.[17]
MAOC dibentuk sesuai dengan model sekolah di Inggeris dan bahasa yang dipakai di dalamnya ialah Bahasa Inggeris. Di­rekturnya berbangsa Inggeris sedang guru dan staffnya banyak terdiri atas orang Inggeris. Ilmu pengetahuan modern merupakan sebahagian besar dari mata pelajaran yang diberikan dengan tidak mengabaikan pendidikan agama. Sedangkan pada sekolah Inggeris yang diasuh Pemerintah pendidikan agama tidak diajarkan. Dalam sistem pendidikan di MAOC pendidikan agama Islam dan ketaatan siswa menjalankan ajaran agama mendapat prioritas yang utama. Keistimewaan lainnya, sekolah tersebut terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, baik Hindu, Parsi dan Kristen, bukan hanya bagi orang Islam. [18]
Sebelumnya pada tahun 1869/1870 Sayyid Ahmad Khan telah berkunjung ke Inggeris, untuk mempelajari sistem pendidikan Barat. Sekembalinya dari kunjungan itulah ia membentuk Panitia Peningkatan Pendidikan Ummat Islam. Salah satu tujuan panitia tersebut adalah menyelidiki sebab-sebab ummat Islam India sedikit sekali memasuki sekolah‑sekolah Pemerintah. Di samping itu dibentuk pula Panitia Dana Pembentukan Perguruan Tinggi Islam. [19]
Di tahun 1886 ia juga membentuk Muhammedan Educational Conference dalam usaha mewujudkan pendidikan nasional yang seragam bagi ummat Islam India. Program dari lembaga ini yakni menyebarluaskan pendidikan Barat di kalangan ummat Islam, menyelidiki pendidikan agama yang diberikan di sekolah‑sekolah Inggeris yang didirikan oleh kalangan Islam serta menunjang pendidikan agama yang diberikan di sekolah‑sekolah swasta. Pada tahun itu juga diterbitkan pula jurnal mingguan “Aligarh Institut” yang menyebarluaskan informasi dan problematika mengenai seputar pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan, serta lembaga ini juga melakukan kegiatan penterjemahan buku Inggeris ke Bahasa India.[20]
Pada tahun 1920 MAOC ini berkembang menjadi Universitas Aligarh yang secara berlanjut meneruskan tradisi sebagai pusat gerakan pembaharuan Islam India. [21] Universitas inilah yang menjadi penggerak utama terwujudnya pembaharuan di kalangan umat Islam India.
Dalam bidang pendidikan ini upaya-upaya yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan merupakan usaha yang luar biasa untuk kemajuan umat Islam India.
c. Bidang Sosial Politik
Dalam bidang politik ide Sayyid Ahmad Khan ini merupakan refleksi dari gejolak sosial politik yang terjadi antara umat Islam dan Inggris pada tahun 1857. Pemikirannya inilah yang dituangkan dalam buku karangannya Asbab Baghawat Hind yang berisi tentang usaha Sayyid Ahmad Khan untuk meyakinkan pihak Inggris, bahwa umat Islam tidak terlibat pemberontakan itu.[22]
Dalam usahanya, ia meyakinkan pihak Inggeris bahwa dalam Pemberontakan 1857 ummat Islam tidak memainkan peranan utama, Ahmad Khan mengeluarkan panflet yang berisikan penjelasan tentang faktor penyebab pecahnya pemberontakan tersebut. Di antara faktor penyebab tersebut adalah :
a. Intervensi Inggeris dalam soal keagamaan seperti pendidikan agama Kristen yang diberikan kepada yatim piatu di panti‑panti yang diasuh oleh orang Inggeris, pembentukan sekolah‑sekolah missi Kristen, dan penghapusan pendidikan agama dari perguruan‑perguruan tinggi.
b. Tidak turut sertanya orang‑orang India, baik Islam maupun Hindu, dalam lembaga‑lembaga perwakilan rakyat, sehingga berakibat :
1) Rakyat India tidak mengetahui tujuan dan niat Inggeris yang sebenarnya dan menganggap Inggeris datang untuk merobah agama mereka menjadi Kristen.
2) Pemerintah Inggeris tidak mengetahui keluhan‑keluhan rakyat India.
c. Pemerintah Inggeris tidak berusaha mengikat tali persahabatan dengan rakyat India, sedang kestabilan dalam pemerintahan bergantung pada hubungan baik dengan rakyat. Sikap tidak menghargai dan tidak menghormati rakyat India membawa akibat yang tidak baik.[23]
Lebih lanjut, Sayyid Ahmad Khan menyatakan bahwa di antara golongan Islam yang ikut serta dalam pemberontakan 1857 adalah mereka yang kerap kali melakukan perbuatan tidak baik dan tercela serta perbuatan kriminal. Dan jika hanya segelintir ummat Islam yang bersalah tidaklah pada tempatnya pula untuk menetapkan keseluruhan ummat Islam India bertanggung jawab terhadap pemberontakan tersebut. Dengan demikian tidak pada tempatnya Pihak Inggeris menaruh rasa curiga terhadap ummat Islam India.[24]
Sikap Sayyid dalam bidang politik terlihat pula pada pertengahan kedua dari abad ke-19, ketika rasa nasionalisme India telah mulai timbul dan terbentuknya Partai Kongres Nasional India di tahun 1885. Sayyid Ahmad Khan menjauhkan diri dari gerakan ini, dengan alasan bahwa bahasa yang dipakai Kongres terhadap Pemerintah Inggris kurang sopan.[25] Menurut Rayendra Prasadia, ia pada mulanya adalah penyokong nasionalisme India. la pemah menerangkan bahwa Hindustan merupakan negara bagi orang Hindu dan dalam kategori Hindu termasuk orang India Islam dan orang India Kristen. Tetapi akhimya ia dipengaruhi oleh Mr. Back, salah satu Direktur MAOC yang berpendapat bahwa pendidikan ummat Islam India belum sampai ke taraf yang membuat mereka akan dapat mengambil keuntungan dari permainan dalam bidang politik. Sebaliknya turut campur dalam bidang politik akan merugikan ummat Islam India.[26]
Sayyid Ahmad Khan memang berpendapat bahwa pendidikanlah satu‑satunya jalan bagi ummat Islam India untuk mencapai kemajuan. Kemajuan tidak akan dicapai melalui jalan politik. Oleh karena itu ia menganjurkan supaya ummat Islam India jangan turut campur dalam agitasi politik yang dilancarkan Partai Kongres. Usaha‑usaha untuk merobah sikapnya terhadap Partai Kongres tidak berhasil. Ia berkeyakinan bahwa anggota kasta‑kasta dan pemeluk agama‑agama yang berlainan di India tidak bisa disatukan menjadi satu bangsa. Tujuan dan cita‑cita mereka saling berlainan. Wujud Partai Kongres Nasional India sebenarnya tidak mempunyai dasar. Gerakan yang dijalankan Partai Kongres, demikian ia selanjutnya menjelaskan, bukan hanya akan merugikan bagi ummat Islam, tetapi juga bagi seluruh India.
Dalam ide politik yang ditimbulkan Sayyid Ahmad Khan di atas telah kelihatan pengertian bahwa ummat Islam merupakan satu ummat yang tidak dapat membentuk suatu negara dengan ummat Hindu. Umat Islam harus mempunyai negara tersendiri. Bersatu dengan ummat Hindu dalam satu negara akan membuat minoritas Islam yang rendah kemajuannya, akan lenyap dalam mayoritas Hindu yang lebih tinggi kemajuannya. Di sini telah dapat dilihat bibit dari ide Pakistan yang muncul kemudian di abad ke-20.
Dari usaha-usaha pembaharuan Sayyid Ahmad Khan terlihat yang paling menonjol adalah dalam bidang pendidikan. Terlihat sikapnya terhadap pendidikan ummat Islam memang terlihat sangat mengagumkan, namun pengaruh tersebut tidak terbatas dalam bidang pendidikan saja. Melalui buku karangannya dan tulisan­-tulisannya Tahzib al-Akhlaq ide‑ide pembaharuan yang dicetuskannya menarik perhatian golongan terpelajar Islam India. Penafsiran‑penafsiran baru yang diberikannya terhadap ajaran-ajaran Islam lebih dapat diterima golongan terpelajar ini dari pada tafsiran‑tafsiran lama.
C. Aligarh dan Pengaruhnya bagi Pembaharuan Indo-Pakistan
Malapetaka hebat yang melanda India, yaitu Pemberontakan tahun 1857 telah berlalu. Pemberontakan itu merupakan akibat dari keinginan akan adanya pendidikan di India, dan akibat dari kenyataan bahwa Bangsa India tidak memahami hak Pemerintah, yang sasarannya adalah kita ini, terhadap kita dan tidak mengerti tentang kewajiban kita terhadapnya. Selain ini semua, juga terdapat keinginan akan adanya hubungan antara para penguasa dan rakyat dalam hal keinginan untuk memperoleh pendidikan itu. Pada saat ini, universitas‑universitas yang didirikan di India dengan tujuan mendirikan pendidikan tingkat ting­gi. Kebanyakan para negarawan menyetujui adanya pendidikan tingkat tinggi itu dan menganggapnya sebagai kewajiban pemerintah, sementara sebagian kecil di antara mereka bersikap menentangnya. Akan tetapi, tak seorang pun yang berfikir bahwa bersamaan dengan pendidikan itu, latihan yang baik pun diperlukan, sebab tak seorang pun dapat meningkatkan dirinya sebagai manusia (beradab) hanya dengan pendidikan semata‑mata, demikian juga dengan pendidikan itu saja sikap moralnyapun tidak dapat ditingkatkan, bahkan dia akan menjadi semacam kuda be­ngal yang tidak mau dikendalikan oleh penunggangnya.[27]
Demikianlah keadaan masyarakat India masa itu, tidak dipungkiri walaupun dengan berbagai ide pembaharuan yang ditelorkan oleh pembaharu-pembaharu seperti Sir Sayyid dan rekan-rekannya, namun sikap mental tak bisa sepenuhnya terpengaruh dengan ide pembaruaan tersebut. Hal ini akan terbukti dengan sejarah Aligarh selanjutnya pasca Sir Sayyid.
Setelah Sir Sayyid wafat pada tanggal 24 Maret tahun 1898, [28] ide‑ide pembaharuan yang dicetuskan Sir Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh pengikut dan pada akhirnya lahirlah sebuah gerakan yang disebut Gerakan Aligarh yang berpusat MAOC sendiri.
Ada beberapa tokoh Aligarh yang berpengaruh dan melanjutkan ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan, di antaranya:
a. Nawab Muhsin al-Muluk
Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat, maka kepemimpinan Aligarh pindah ke tangan Sayyid Mahdi Ali, yang dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al‑Mulk (1837 ‑ 1907). Pada mulanya ia adalah pegawai Serikat India Tiffluk, kemudian menjadi pembesar di Hyderabad. Ia pernah berkunjung ke Inggeris untuk keperluan Pemerintah Hyderabad. Di tahun 1863 ia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan antara keduanya terjalin tali persahabatan yang erat. la banyak rnenulis artikel Tahzib Al‑Akhlaq dan kemudian juga di majalah yang diterbitkan MAOC la pindah ke Aligarh dan menetap di sana mulai pari tahun 1893.
Pada tahun 1897 ia menggantikankan kedudukan Sayyid Ahmad Khan di MAOC Ia mempunyai jasa yang besar dalam menyebarkan ide‑ide Sayyid Ahmad Khan yang dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference.[29] Jasanya dalam memajukan MAOC terlihat dengan bertambah banyaknya jumlah murid lembaga pendidikan tersebut.[30]
Muhsin al-Mulk berhasil membuat golongan ulama India merobah sikap keras terhadap Gerakan Aligarh. Sebagaimana diketahui bahwa Deoband yang banyak menghasilkan ulama‑ulama India tradisional, mempunyai sikap yang tidak kooperatif dengan Inggeris, sedang Sayyid Ahmad Khan terkenal dengan sikap pro‑Inggeris. Jadi antara MAOC terdapat perbedaan bukan hanya dalam soal-soal keagamaan saja tetapi, juga mengenai sikap politik. [31]
Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan Aligarh, lebih jauh ia mampu menarik beberapa lawan politik pendiri Perguruan Tinggi tersebut. Ia adalah orang yang paling cinta damai, namun ia dihadapkan juga kepada kontraversi Hindu-Urdu yang telah ada sejak akhir-akhir kehidupan Sayyid Ahmad. Inilah yang pada akhirnya menyebabkan ia mengundurkan dari Perguruan Tinggi tersebut. Ia wafat 16 Oktober 1907, dan dikuburkan di samping kuburan Sir Sayyid di Aligarh.[32]
b. Viqar al-Mulk
Pemimpin lain yang berpengaruh ialah Viqar al‑Mulk (1841 ‑1917). Ia semenjak muda telah menjadi pembantu dan pengikut Sayyid Ahmad Khan. Di tahun 1907 ia menggantikan Nawab Muhsin AI‑Mulk dalam pimpinan MAOC.[33] Masa inilah terjadinya perubahan-perubahan besar dalam adminsitrasi Perguruan Tinggi Aligarh, bahkan dalam kebijaksanaan politik umat muslim India.[34]
Viqar al-Mulk bernama Mushtaq Hussain yang lahir 1841, di Distrik Moradabad, United Pravinces. Ia adalah rekan Sayyid Ahmad Khan dan juga Muhsin al-Mulk. Bersama dengan Muhsin al-Mulk ia selalu bekerja sama dalam masalah administrasi Aligarh. Dan setelah Muhsin al-Mulk meninggal pada tahun 1907, ia dipilih menjadi Sekretaris Badan Pendiri.[35]
Pada masa Viqar ini terjadi pertentangan antara Viqar al‑Mulk dengan Mr. Archbold yang menjadi Direktur MAOC di waktu itu. Dalam pertentangan ini Gubernur Daerah menyebelah Archbold sedang Viqar al‑Mulk disokong oleh Agha Khan serta Amir Ali dan selanjutnya oleh masyarakat Islam di luar. Archbold akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Kekuasaan Iriggris di MAOC dari semenjak itu mulai berkurang. [36]
Pada masa Viqar inilah berakhirnya kontraversi tentang administrasi Perguruan Tinggi, dan mulainya era baru bagi perjalanan Aligarh. Ia cukup tangguh dalam membina kebijaksanaan politik Muslim India.
Viqar AI‑Mulk, sebagai seorang ulama, keras pendirian dan pegangannya terhadap agama, hidup keagamaan di MAOC diperkuatnya. Pelaksanaan ibadat, terutama shalat dan puasa, diperketat pengawasannya. Lulus dalam ujian agama menjadi syarat untuk dapat naik tingkat. Hal‑hal tersebut di atas membuat MAOC menjadi lebih populer di kalangan ulama India. Dalam pandangan politik, ia pada mulanya sependapat dengan Sayyid Ahmad Khan. Ia menegaskan bahwa ummat Islam India yang hanya berjumlah seperlima dari ummat Hindu, kalau India telah ditinggalkan Inggeris akan hidup tertindas oleh mayoritas Hindu. Nyawa, harta, kehormatan dan agama ummat Islam akan dalam keadaan bahaya. Kelanjutan wujud ummat Islam India akan dapat terjamin dengan berlanjutnya kekuasaan Inggeris di India. Tetapi setelah rencana pembahagian Bengal menjadi dua daerah pemilihan, daerah pemilihan Islam dan daerah pemilihan Hindu dibatalkan, ia merobah pandangan politiknya. Inggeris bukan lagi tempat orang Islam menggantungkan nasib, masa untuk itu telah berlalu. Sikap Inggeris untuk membatalkan pembahagian Bengal, demikian ia menjelaskan, adalah seperti meriam yang menggiling tubuh ummat Islam, Inggeris tidak peduli lagi apakah masih terdapat nyawa di dalam­nya dan tidak diperdulikan apakah ummat Islam merasa sakit atau tidak.
Di masa pimpinan Viqar al‑Mulk ini terlihat bahwa ketergantungan Gerakan Aligarh kepada Inggeris telah mulai berkurang dan tidak lagi sekeras di zaman Sayyid Ahmad Khan.
c. Altaf Husain Hali
Tokoh India lainnya yang terkenal sebagai penyebar ide‑ide pembaharuan Sayyid Ahmad Khan adalah Altaf Husain Hali (1837 ‑ 1914). Ia pernah bekerja sebagai penerjemah di kantor Pemerintah Inggeris di Lahore, tetapi kemudian pindah ke Delhi. Di sinilah ia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan keduanya menjadi teman baik. Hali terkenal sebagai seorang penyair, tetapi ia juga menulis karangan‑karangan untuk Tahzib Al‑Akhlaq. Atas permintaan Sayyid Ahmad Khan ia menulis syair tentang peradaban Islam di Zaman Klasik. Keluarlah di tahun 1879 apa yang terkenal dengan nama Musaddas. Syair itu antara lain juga mengandung ide‑ide Aligarh. Musaddas sangat berpengaruh terhadap ummat Islam India, sehingga dikatakan bahwa di samping MAOC dan Muhammedan Educa­ional Conference Musdddas‑lah yang mempunyai jasa besar dalam mempopulerkan Gerakah Aligarh. Terhadap pendidikan wanita ia lebih progressif dari Sayyid Ahmad Khan yang memandang bahwa kaum wanita belum perlu mendapat pendidikan sebagai kaum lelaki. Dalam soal politik ia juga berpendapat bahwa ummat Islam India merupakan suatu kesatuan tersendiri di samping ummat Hindu. Tetapi ia tidak bersikap anti‑Hindu, ia menganjurkan supaya penulis-penulis Islam India juga mempelajari bahasa Hindu.[37]
Semangat patriotisme Hali ini terlihat dalam Syairnya:
Jika Anda ingin kebaikan dari negerimu.
Maka janganlah menganggap sebagai orang asing sesama patriot dari tanah airmu,
Apakah ia Muslim atau Hindu,
Apakah Budhis atau Brahma,
Pandanglah mereka dengan mata persahabatan yang syahdu,
Anggaplah mereka seperti bagian hitam dari matamu.
Sejak masa Sayyid Ahmad telah diramalkan akibat dari gerakan anti bahasa urdu pada tahun 1867. Sir Sayyid telah mengungkapkan pandangan bahwa bahasa sangat penting dalam membina nasionalitas bersama. [38] Hal inilah yang diserukan oleh Hali bahwa aspek bahasa memegang peranan penting dalam penyelesaian konflik antara Hindu dan Urdu, juga antara Hindu dengan umat Islam. bahwa orang Hindu hendaknya memakai Bahasa Urdu. Juga orang Islam hendaknya menjauhi kata-kata Arab dan Parsi, dan beralih ke memperhatikan Hindi dan Sanskerta. Ia menekankan bahwa yang akan dicapai adalah Bahasa Delhi yang sederhana yang dipergunakan oleh orang-orang Hindu dan Muslim. [39]
d. Muhammad Syibli Nu’mani
Muhammad Syibli Nu’mani (1857‑1914) diangkat pada tahun 1883 sebagai Asisten Profesor Bahasa Arab di Aligarh.[40] Ia mempunyai pendidikan madrasah tradisional dan pernah pergi ke Mekah dan Medinah memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat meninggal­kan MAOC.
Ketika di MAOC ia berjumpa dengan ide‑ide baru yang dikemukakan oleh Gerakan Aligarh dan tertarik padanya. Latar belakang pendidikan madrasahnya, membuat ia tidak mempunyai sikap se-liberal Sayyid Ahmad Khan. Tetapi ia tidak menentang pemakaian akal dalam soal-soal agama; mempelajari falsafat barat yakin bukanlah haram. Ulama-ulama zaman klasik juga mempelajari dan mengetahui falsafat. Mereka, demikian argumennya lebih lanjut, menyetujui pelajaran falsafat. Pemikiran modern dalam bentuk moderat dapat dite­rimanya. [41]
Pada tahun 1894 ia mendirikan “Nadwah Ulama” yang diawali dengan semangat yang tinggi. Sehingga, Suleman Nadwi, pengganti Syibli menyatakan bahwa “banyak orang percaya bahwa hal ini akan membawa kepada berdirinya pemerintahan ulama”. [42] Inilah nampaknya gerakan tandingan yang pada akhirnya membawa Aligarh kepada kemunduran.
Banyak kritik-kritik yang dilontarkan Syibli kepada Aligarh, dia tidak terkesan dengan hasil-hasil intelektual pendidikan modern, karena perlakuan yang ia terima sebagai Asisten Profesor bahasa. Pada akhirnya ia meninggalkan MAOC dan pergi ke Lucknow untuk memimpin perguruan tinggi Nadwat al-Ulama. Pemikiran modern moderat yang dianutnya membawa perobahan pada perguruan tinggi ini. Salah satu dari muridnya yang kemudian menjadi pemimpin pembaharuan di abad kedua puluh ialah Abdul Kalam Azad. [43]
Kritik Syibli yang membawa kepada sikap meninggalkan Aligarh adalah bahwa sejak masa Sayyid Ahmad Khan telah terjadi pemisahan agama dari politik. Walaupun pada kenyataannya Sir Sayyid sangat memperhatikan agama, Syibli percaya bahwa agama sebagai bantuan untuk tujuan-tujuan duniawi.[44] Ini barangkali obsesi masa lalu ketika para ulama memegang kekuasaan spiritual sekaligus duniawi.
Pada masa inilah, gaung Aligarh mulai memudar, namun ide-ide pembaharuan yang dicetuskan melalui lembaga ini terus dikembangkan oleh tokoh-tokoh yang lahir kemudian.
D. Penutup
Sayyid Ahmad Khan adalah pencetus pembaruan India. Berbagai pemikiran pembaruan yang ditelornya sangat berpengaruh bagi kemajuan rakyat India selanjutnya. Ide-ide pembaharuannya baik dalam pendidikan, keagamaan, juga dalam bidang politik merupakan refleksi dari gejolak sosial masa itu.
Dalam bidang keagamaan, Sir Sayyid menemukan penafsiran-penafsiran baru tentang ajaran agama. Dalam bidang politik Sir Sayyid berusaha meyakinkan Inggris – penguasa India – agar Inggris mau bekerja sama dengan umat Islam dalam memajukan India. Sedangkan dalam bidang pendidikan merupakan usaha yang sangat fundamental bagi kemajuan India selanjutnya. MAOC di Aligarh yang merupakan cikal bakal bagi lahirnya tokoh-tokoh pembaharu India yang akan mengantar India kepada kemajuan pasca keterpurukan – kekalahan Mughal dan penguasaan Inggris di India.
Aligarh melahirkan tokoh-tokoh yang terus mengembangkan ide-ide pembaharuan Sir Sayyid, seperti Muhsin Al-Mulk, Viqar al-Mulk, dan lain-lain. Dalam perkembangan selanjutnya MAOC berkembang menjadi Universitas Aligarh yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh penting, seperti Amir Ali, Muhammad Iqbal, dam Maulana Abul Kalam Azad.

DAFTAR PUSTAKA
Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj. Ghufran A. Mas’adi, judul asli: A History of Islamic Societies, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999, Jilid ke-3
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dab Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1994
Taufik Adman Amal, Pembaharuan Penafsiran al-Qur’an di Indo-Pakistan, Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. III, No. 1, Th 1992
Dewan Editor, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002
Busthami Muhammad Sa’id, Gerakan Pembaharuan Agama Antara Modernisme dan Tajdiduddin, terj. Ibn Marjan, judul asli: Mafhum Tajdid al-Din, Bekasi: PT. Wacana Lazuardi Amanah, 1995
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: CV. Anda Utama, 1993
M. Th. Houstma, Firt Encyclopedia of Islam, London: EJ. Brill, 1987
Jhon J. Donohue dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-Masalah, terj. Machnun Husein, Judul Asli: Islam in Transition, Muslim Perspectives, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994
Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993
[1]Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj. Ghufran A. Mas’adi, judul asli: A History of Islamic Societies, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), Jilid ke-3, h. 261
[2]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dab Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 165
[3]Ibid.
[4]M. Th. Houstma, Firts Encyclopedia of Islam, (London: EJ. Brill, 1987), h.199
[5]Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam I, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 85
[6]Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: CV. Anda Utama, 1993), h. 82
[7]Ibid., h. 168
[8]Ibid.
[9]Taufik Adman Amal, Pembaharuan Penafsiran al-Qur’an di Indo-Pakistan, Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. III, No. 1, Th 1992, h. 43
[10]Dewan Editor, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 408
[11]Busthami Muhammad Sa’id, Gerakan Pembaharuan Agama Antara Modernisme dan Tajdiduddin, terj. Ibn Marjan, judul asli: Mafhum Tajdid al-Din, (Bekasi: PT. Wacana Lazuardi Amanah, 1995), h. 132
[12]Dewan Editor, Loc.cit.
[13]Depag RI, op.cit., h. 135
[14]Ibid., h. 140
[15]Ibid.
[16]Ibid., h. 141
[17]Harun Nasution, op.cit. h. 170
[18]Ibid.
[19]Ibid.
[20]Depag, op.cit., h. 84
[21]Dewan Editor, Loc.cit.
[22]M. Th. Houstma, First Encylcopedia of Islam, (London: E.J Brill, 1987), h.199
[23]Harun Nasution, op.cit., h. 166-167
[24]Ibid.
[25]Ibid., h. 172
[26]Ibid.
[27]Jhon J. Donohue dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-Masalah, terj. Machnun Husein, judul asli: Islam in Transition, Muslim Perspectives, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), h. 55-56
[28]Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, (Bandung: Mizan, 1993), h. 94
[29]Harun Nasution, op.cit., h. 175.
[30]Dewan Editor, Loc.cit.
[31]Ibid.
[32]Mukti Ali, op.cit., h. 113-115
[33]Harun Nasution, op.cit., h. 176
[34]Mukti Ali, op.cit., h. 121
[35]Ibid., h. 123
[36]Harun Nasution, Loc.cit
[37] Ibid., h. 178. Selain Hali ini banyak juga penulis-penulis yang mempopulerkan Aligarh di antaranya: Chiragh Ali yang menulis untuk Tahzib Al‑Akhlaq. la juga mengarang beberapa buku dalam bahasa Inggeris, yang terpenting di antaranya ialah mengenai "pembaharuan yang diperlukan." Selain itu ada pula Salah al‑Din Khuda Bakhs adalah penulis dari Gerakan Aligarh yang mempunyai pengaruh terhadap pembaharuan di kalangan ummat Islam India. la juga mengarang beberapa buku di antaranya Essays Indian and Islamic, dan Politics in Islam. Al Qur‑an, selain itu terdapat pula seorang pengarang roman dari Gerakan Aligarh yang banyak berpengaruh ada ummat Islam India yaitu Maulvi Nazir Ahmad. Karangan‑karangannya berkisar sekitar soal agama, budi pekerti dan problema‑problema sosial. Al-Qur’an ia terjemahkan ke dalarn bahasa Urdu yang baik lagi menarik dan oleh karena itu banyak dibaca dan berpengaruh pada masyarakat Islam India. Sama haInya dengan Viqar al-Mulk, Maulvi Nazir Ahmad dengan ide‑idenya seperti tersebut di atas, membuat Gerakan Aligarh, dapat mendekati golongan ulama India. Dalam interpretasinya tentang ajaran‑ajaran Islam. Maulvi tidak seliberal interpretasi yang diberikan Sayyid Ahmad Khan. Kalau bagi yang tersebut akhir ini malaikat dan jin merupakan daya‑daya alami, baginya itu masih merupakan makhluk‑rnakhluk spiritual. lihat penafsiran Sayyid Ahmad Khan dalam tulisan Taufik Adnan Amal, op.cit., h. 63
[38]Mukti Ali, op.cit., h. 107
[39]Ibid., 108
[40]Ibid., h. 135
[41]Harun Nasution, op.cit., h. 180
[42]Mukti Ali, op.cit., h. 136
[43]Harun Nasution, loc.cit.
[44]Mukti Ali, op. cit., h. 140

DO’A DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

A. Pendahuluan
Manusia sudah mengenal do’a. jauh sebelum ia benar-benar mengenal Tuhan, seperti yang terjadi pada masyarakat penganut animisme dengan anggapan bahwa setiap benda mempunyai kekuatan ghaib. Sehingga mereka mengadakan persembahan yang beraneka ragam terhadap benda-benda tersebut. Ini disebabkan adanya keyakinan terhadap kekuatan luar biasa yang berada di luar kekuatan manusia.
Dalam sejarah Adam-pun dijelaskan bahwa setelah Adam dijadikan dan ditiupkan roh, ia diajarkan lafaz do’a yang berbunyi : “Ya Tuhanku ! Tunjukilah aku jalan yang lurus, jalan mereka yang pernah beroleh berkah kurnia-Mu, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”. Do’a ini dianggap sebagai sejarah dari surah al-Fatihah sebagai do’a pertama yang ditemui pada bagian awal muzhab al-Qur’an.
Dalam Islam do’a merupakan induk dari ibadah. Karena semua ibadah, termasuk shalat, puasa, zakat, dan lain-lain merupakan bentuk permohonan dalam wujud pengabdian agar diberikan Allah kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Namun, keseluruhan isi al-Qur’an bukanlah kitab do’a meskipun banyak dijumpai do’a-do’a yang langsung dan tidak langsung di dalamnya.
Dalam pembahasan ini, penulis akan membahas tentang tafsir mawdhui yang berkenaan dengan do’a dalam al-Qur’an; khusunya mengenai etika berdo’a yang diajarkan al-Qur’an.
B. Pengertian Do’a dalam al-Qur’an
Ada beberapa pengertian do’a menurut bahasa:
1. Menurut Muhammad bin Ismail al-Kahlani, do’a adalah :
[1] الدعاء مصدر دعا وهو الطلب
Do’a adalah mashdar dari kata da’a, dia adalah menuntut.
2. Dalam Kamus Munjid fi al Lughah, do’a diartikan:
[2] الدعا – دعا – ناداه رغب إليه استعانة
Do’a adalah mashadar dari da’a artinya memanggil (menyeru) –Nya ingin meminta tolong kepada-Nya.
3. Menurut Kamus al-Muhith, do’a adalah :
[3] الدعا به إستحضره
Do’a adalah meminta atau menyuruh datang.
Arti do’a yang telah dikemukakan di atas sama dengan menuntut (meminta) dan ada yang mengatakan menyeru dan memanggil, kemudian ada yang mengatakan meminta tolong. Pengertian-pengertian yang dikemukakan tersebut, hakikatnya adalah sama dengan minta tolong.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disatukan bahwa do’a itu artinya meminta.
Sedangkan do’a menurut istilah
1. Menurut Muhammad bin Ismail al-Kahlani, do’a adalah :
[4] الدعا مصدر دعا وهو الطلاب : ويطلق على الحث علا فعل الشيئ
Do’a mashdar dari da’a artinya meminta atau menuntut (الطلاب) dipergunakan juga do’a itu untuk mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu.
2. M. Hasbi ash-Shiddeqy mengemukakan bahwa kata do’a dengan makna permintaan atau permohonan, [5] seperti dalam firman Allah Swt :
… ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ …. (المؤمن : 60)
… Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. … (QS. 40 : 60)
Dalam wacana intelektual Islam, pengertian do’a sama seperti yang dikemukakan di atas yaitu sebagai seruan, permintaan, permohonan, pertolongan, dan ibadah kepada Allah SWT supaya terhindar dari mara bahaya dan mendapatkan manfaat. [6]
Penggunaan kata do’a dan yang berakar dari kata da’a dalam Al-Qur’an terdapat pada 212 ayat dan tersebar pada 55 surat. [7] (Mu’jam) Jika ditelusuri dari tema do’a berupa seruan, permintaan, atau permohonan ditemukan pula pada 252 ayat yang tersebar dalam 49 surat. [8] (Cd al-Qur’an). Berdasarkan penelusuran ini terdapat indikasi bahwa tidak semua akar kata do’a berarti permintaan. Sebaliknya, tidak semua permintaan atau permohonan menggunaan kata da’a atau derivasinya.
Dalam 252 ayat yang mengandung arti do’a terdapat lafaz lain yang mengindikasikan makna do’a yaitu dengan menggunakan kata rabba, rabana, allahumma dan ada berbentuk amar. Berikut akan diberikan contoh-contoh ayat yang mengunakan kata-kata tersebut.
1. Kata Rabbi
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي (طه : 25-28)
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku
2. Kata Rabbana
يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
3. Kata Allahumma
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا ِلأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَءَايَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ (المائدة : 114)
Isa putera Maryam berdo`a: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama".
4. Bentuk Amar
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(الفاتحة6)
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Dalam al-Qur’an ditemukan penggunaan do’a selain yang bermakna permintaan atau pengharapan, seperti do’a yang bermakna ibadah dan seruan. Berikut akan dipaparkan beberapa makna tersebut dalam al-Qur’an:
1. Do’a sebagai permintaan, seperti Do’a Nabi Zakaria yang meminta kepada Allah untuk diberikan anak cucu pada surat Ali Imran ayat 38
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ (ال عمران: 38)
Di sanalah Zakariya mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a".
2. Do’a dengan makna ibadah, seperti dalam surat al-A’raf ayat 29 :
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الأعرف:29)
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)".
Kata َادْعُوهُ dalam ayat di atas berarti sembahlah Allah sebagai indikasi bahwa maksud do’a di sini adalah ibadah kepada Allah. Lebih lanjut kata َادْعُوهُ ini ditafsirkan bulatkanlah seruan dan do’a kepada-Nya, dengan tidak mencampurkan dengan yang lain. [9]
Ayat lain yang menggunakan makna ibadah pada kata do’a terdapat dalam surat Fushilat ay­at 33 :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (فصلت: 33)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (beribadah) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
3. Do’a sebagai seruan, dijumpai pada ayat 14 surat Fathir berikut :

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ(13) إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ(14)

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.
Dalam ayat di atas do’a bermakna seruan yang dilakukan oleh kaum politeis terhadap objek-objek sembahan mereka. Tuhan-tuhan selain Allah itu tidak akan mendengarkan seruan mereka, dan sekiranya mendengarkan, tidak akan ada yang mengabulkannya. Karena hanya Allahlah yang akan mengabulkan doa.
Selain itu ada juga do’a yang bermakna seruan kebaikan, seperti
دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ(الرعد:14)
Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do`a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do`a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.
Ayat ini menjelaskan seruan Nabi dan Rasul menyampaikan seruan kepada umat manusia supaya mereka sadar, agar mereka mengerti siapa Tuhannya, Tuhan yang tidak bersekutu. Menurut Ali bin Abi Thalib yang dimaksud Da’watul Haq adalah Kalimat Tauhid, keyakinan mengesakan Allah. Sedangkan Ibnu Abbas menjelaskan bahwa seruan kebenaran tersebut adalah kalimat Lailaha illa Allah..[10] Da’watul Haq merupakan do’a yang benar-benar hanya untuk Allah. Yang mewujudkan ketauhidan-Nya.

Melihat makna do’a yang muncul dalam beberapa ayat yang dipaparkan di atas terlihat ada beberapa pengertian:
1. Do’a merupakan permintaan, seperti terlihat dalam beberapa ayat di atas.
2. Do’a merupakan penguatan hati untuk keimanan dan membulatkan keyakinan kepada Allah
Dari dua pengertian ada benang merah, bahwa do’a itu merupakan sebuah permintaan, yang tujuannya tidak terlepas sebagai pengagungan, pentauhidan terhadap Allah. Karena tidak ada yang akan mengabulkan permintaan, kecuali Allah semata.
C. Perintah Berdo’a
Dalam agama Islam, berdo’a merupakan hal yang penting untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena dia merupakan inti ibadah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi, yang berbunyi :
[11] الدعاء مخ العبادة (رواه البخارى والترمذى)
Do’a itu adalah intinya ibadah. (HR. Bukhari dan Turmizi)
Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa berdo’a adalah ibadah bahkan intinya ibadah. Allah mensyari’atkan kepada hamba-Nya, supaya berdo’a kepada-Nya. Firman Allah dalam surat al-Mukmin ayat 60 yang berbunyi :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ(المؤمن: 60)
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
Berdasarkan ayat yang telah disebutkan di atas maka dapatlah dipahami, bahwa do’a adalah suatu yang disyari’atkan Allah kepada hamba-Nya, karena dalam ayat tersebut telah dijamin oleh Allah, bahwa doa yang disampaikan oleh hamba-Nya akan dikabulkan-Nya.
Dan orang yang tidak mau berdo’a kepada Allah adalah termasuk orang-orang yang sombong, orang yang sombong akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka jahannam.
Pada beberapa ayat lain Allah menyuruh hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya, karena hanya kepada-Nyalah kita wajib untuk berdo’a serta meminta sesuatu, di antaranya ayat mengatakan demikian adalah :
1. Firman Allah surat al-A’raf ayat 29
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الأعراف : 29)
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)".(QS. 7 : 29)
2. Firman Allah Swt dalam surat al-A’raf ayat 180
وَلِلّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (الأعراف : 180)
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 7 : 180)
3. Firman Allah Swt dalam surat al-Mukmin ayat 65
هُوَ الْحَيُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (المؤمن :65)
Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. 40 : 65)
Dalam ayat lain dinyatakan, bahwa Allah Swt menyembah kepada-Nya.
4. Firman Allah Swt dalam surat al-Isra’ ayat 110
قُلِ ادْعُوا اللهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً (الإسرآء : 110)
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (QS. 17 : 110)
5. Firman Allah Swt dalam surat al-Mukmin ayat 14
فَادْعُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (المؤمن :14)
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya). (QS. 40 : 14)
6. Firman Allah Swt dalam surat al-A’raf ayat 55
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(الأعرف: 55)
Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
7. Firman Allah Swt dalam surat al-A’raf ayat 56
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ
مِنَ الْمُحْسِنِينَ(الأعراف: 56)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt menyuruh hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya, dari ayat ini dapat diambil pengertian, bahwa Allah Swt menginginkan supaya hamba-Nya dekat kepada-Nya.
Dalam al-Qur’an semua do’a harus ditujukan kepada Allah. Allah yang menyuruh meminta kepada-Nya dan Ia yang menjamin pengabulannya. Seperti yang dikemukakan dalam surat al-Mukmin ayat 60 di atas. Dan Ini dikuatkan oleh ayat lain:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ(186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ayat ini membuktikan bahwa Allah itu dekat, maka Allah menyuruh agar berdo’a secara langsung tanpa perantara
D. Hubungan Manusia dengan Do’a
Do’a merupakan permintaan dan harapan. Manusia sering lari kepada berdo’a tatkala tidak ada lagi tempat berharap. Hal ini memang tabiat kemanusiaan yang tidak bisa didustakan, karena manusia diciptakan mempunyai tabiat keluh kesah. Bila mendapat musibah mereka tidak sabar, sebaliknya bila mendapat nikmat mereka jadi lupa diri. Allah menjelaskan perihal manusia ini:
Az-Zumar ayat 8:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ(8)
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan ni`mat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo`a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka".
Sifat mendua manusia ini termasuk sifat yang tercela yang harus dihindari oleh orang yang beriman. Manusia beriman yang sadar akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah, tidak hanya berdo’a di saat sulit. Karena karunia Allah tidak hanya dibutuhkan di saat sulit, tetapi dalam semua keadaan, baik susah maupun bahagia.
Do’a adalah bagian dari ibadah untuk menyembah Allah. Untuk menjadi penyembah Allah, manusia harus berusaha mendekati sifat-Nya yang tidak pilih kasih dan menekan sifat egois yang hanya ingta kepada Allah di saat sulit. Sebagai hamba harus meneyembah Allah dalam seluruh keadaan. Atau atau buruk, suka atau duka.
Dalam berdo’a manusia harus mengikutinya dengan perbuatan, atau manusia berbuat dan ia mengikuti dengan do’a. tidak ada do’a yang terlepas dari usaha. Inilah ciri orang yang beriman. Firman Allah:
Ali Imran: 195:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ(195)
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."
Karena itu do’a setiap muslim harus bertujuan kebaikan untuk dirinya dan untuk saudara-saudaranya sesama insan. Dan seorang muslim tidak akan berdo’a untuk sesuatu yang akan merusak dirinya.
Dan pada akhirnya manusia berdo’a dan berusaha sedangkan ketentuannya ada pada Allah: Ali Imran: 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ(159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
E. Syarat-syarat Do'a
Syarat-syarat yang penulis maksudkan di sini adalah syarat yang dikaitkan dengan do’a yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang berdo’a, yang kiranya dapat dikabulkan oleh Allah Swt. syarat-syarat tersebut terbagi kepada dua, yaitu syarat yang berkaitan dengan pribadi yang berdo’a dan syarat yang berkaitan dengan pelaksanaan do’a.
1. Syarat yang berkaitan dengan pribadi yang berdo’a
Syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar do’anya dikabulkan oleh Allah adalah sebagai berikut :
a. Beriman
Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’du ayat 14 :
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ (الرعد : 14)
Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do`a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do`a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.(QS. 18 : 14)
Selanjutnya Allah berfirman dalam surat al-Mukmin ayat 50 :
… فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ (المؤمن :50)
… "Berdo`alah kamu". Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. 40 : 50)
Ayat ini menyatakan bahwa do’a orang kafir itu tidaklah diterima Allah Swt.
Dari ayat yang telah dijelaskan tersebut, bahwa do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia, karena dengan demikian dapat dipahami bahwa pertama sekali yang harus dipenuhi adalah beriman kepada Allah yang akan mengabulkan do’a.
b. Ikhlas
Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah surat al-A’raf ayat 29
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الأعراف :29)
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)". (QS. 7 : 29)
Ayat di atas menjelaskan, bahwa Allah Swt menyuruh hamba-Nya berdo’a dengan jiwa yang ikhlas dan beragama semata-mata untuk Dia. Dari ayat ini dapat diketahui bahwa seorang yang akan menyampaikan do’anya kepada Allah Swt hendaklah orang itu ikhlas, bersih hatinya dari selain Allah. Dia hanya meminta kepada Allah tidak ada yang lain dari Allah Swt.
Menurut Muhammad al-Ghazali Ikhlas adalah melakukan amal kebajikan semata-mata karena Allah, yakni semata-mata karena mengharapkan keridhaanNya. [12]
Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa ikhlas adalah ikhlas beragama untuk Allah dengan selalu menghadapkan kepada-nya, dan tidak mengakui kesamaa-Nya dengan makhluk apapun dan bukan tujuan khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya sebagai pelindung. [13]
Pengertian ikhlas lebih ditujukan kepada amal dan ibadah. Demikian halnya dengan do’a. di dalam berdo’a seseorang dituntut untuk ikhlas dalam mengungkapkan permohonan dan keinginannya.
Dalam ayat di atas ikhlas dijelaskan dengan kata مُخْلِصِينَ mufradnya مُخْلِص yang berarti orang yang ikhlas dalam mentauhidkan Allah. [14] Jadi ikhlas tetap juga dikaitkan dengan mentauhidkan Allah, dan ini sesuai dengan tujuan do’a. ini dikuatkan oleh ayat lain yang terdapat dalam ayat-ayat berikut:
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(يونس: 22)
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta`atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ(العنكبوت:65)
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah),
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ(لقمن: 32)
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ(المؤمن: 14)
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya).
هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(المؤمن: 65)
Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Penggunaan kata مُخْلِصِينَ yang merupakan isim fa’il, menekankan bahwa ikhlas harus diusahakan dan diwujudkan oleh diri pribadi. Berbeda apabila menggunaan isim fa’il مُخْلصِينَ, dalam ini ikhlas sebagai anugrah Allah seperti yang digambarkan dalam kisah Nabi Yusuf, surat Yusuf ayat 24:
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ(يوسف: 24)
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allahlah yang menghindarkan Yusuf dari keburukan dan kekejian, karena Yusuf tergolong orang-orang yang dimurnikan atau disucikan oleh Allah SWT.
Jadi dalam berdo’a dituntut keikhlasan hati, semata-mata memohon dan meminta kepada Allah.
c. Orang yang mau bertaubat atas kesalahan
Firman Allah dalam surat al-An’am ayat 54 :
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الأنعام : 54)
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 6 : 54)
Ayat ini juga menerangkan bahwa orang yang berbuat jahat, kemudian bertaubat, maka permohonannya diterima oleh Allah Swt yaitu keampunan dari pada-Nya.
2. Syarat-syarat yang berkaitan dengan pelaksanaan do’a
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan do’a adalah :
a. Memakai nama Allah Swt dalam berdo’a, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam ayat berikut :
وَلِلّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (الأعراف : 180)
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-A’raf : 180)
Ayat ini menjelaskan bahwa untuk menyampaikan do’a kepada Allah Swt, maka harus memakai atau mengucapkan di antara nama tersebut.
b. Dengan perasaan takut dan harapan, sebagaimana Firman Allah Swt :
وَلاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (الأعراف : 56)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-A’raf : 56)
Diketahui dalam ayat ini Allah memberi tahu, dan menyuruh supaya berdo’a dengan harap dan cemas, maksudnya adalah perasaan takut tidak akan diterima do’a dan kiranya berharap benar supaya dapat diterima Allah Swt.
Dalam ayat tersebut juga dapat diketahui bahwa orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin), rahmat Allah dekat kepadanya, dari sini juga dapat dipahami, bahwa syarat terkabulnya do’a adalah suka berbuat baik dan tidak pernah berbuat jahat.
c. Berdo’a dengan berendah hati dan dengan berbisik, sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 55
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (الأعراف : 55)
Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-A’raf : 55)
Dalam ayat ini diajarkan dua tata cara berdo’a yaitu: tadarru’an, merendahkan diri, dan Khufyatan, bersunyi.[15] Yang dimaksud merendahkan diri, yaitu merendahkan diri kepada Allah di saat memohon dan meminta petunjuk-Nya, mengakui kelemahan yang ada pada dirinya sebagai manusia. sehingga akan terasa bahwa dirinya adalah semata-mata bergantung kepada belas kasih Allah.
Yang yaitu bersunyi, maksudnya apabila mengerjakan ibadat bersama-sama dengan menghindarkan sesuatu yang akan menimbulkan riya’. Sebagian ahli tafsir mempertemukan makna antara Tadharu’an dan Khufyatan yaitu ketika berdo’a sendirian kerjakanlah dengan merendahkan diri, tadharru’an dan ketika bersama hendaklah sikap tadharru’an disempurnakan dengan Khufyan. [16]
Thabathabai cenderung menafsirkan tadharru’a dan khufyan ini dengan suara antara jahar dan sir.[17] Jadi dalam berdo’a hendaknya suara berada di antara keras dan pelan.
Dalam ayat lain tadharu’an diikuti dengan Khifan yaitu rasa takut
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ(205)
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Dalam ayat ini diperjelas bahwa do’a itu dengan tidak mengeraskan suara, karena hal tersebut dilarang oleh Allah
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(الاسراء: 110)
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"
d. Mengulang-ulang dalam berdo’a
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا(مريم: 4 )
Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku.
Ayat ini adalah do’a Nabi Zakaria sebagai wujud pengakuannya bahwa dia tidak akan berhenti berdo’a kepada Allah walaupun umurnya telah senja. Karena dia yakin Allah akan mengabulkan do’anya.
Kata إِنِّي dalam ayat di atas menunjukkan ta’kid, disebabkan Zakaria sangat tekun dalam berdo’a, dan berharap Allah mengabulkan do’a. disebabkan itulah dia tidak berhenti berdo’a sampai usianya senja.[18]
Selain itu di dalam hadis juga ditambahkan tuntunan berdo’a ini seperti berdo’a dengan mengangkat tangan. [19] 10 berdo’a tidak untuk sesuatu yang jelek, mengandung dosa, memutuskan silaturahmi, dan tidak minta cepat-cepat dikabulkan Allah [20] 11
F. Formula Doa dalam al-Qur’an
Al‑Qur'an adalah petunjuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam berdo'a kepada Allah s.w.t. Di dalamnya dicantumkan berbagai formula do'a yang pernah diucapkan para nabi dan rasul serta orang‑orang saleh sepanjang sejarah. Porsi terbanyak adalah do'a Nabi Ibrahim sebagai moyang para nabi yang melahirkan tiga agama besar dalam sejarah yang berkembang sampai sekarang. Formula tersebut tidak hanya sekedar bernilai sejarah karena pernah diucapkan di masa lampau, tetapi adalah pedoman untuk diucapkan kembali oleh orang beriman agar mendapat kemudahan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Mengamati berbagai do'a yang ada dalam al‑Qur'an, maka secara umum dapat diklasifikasikan kepada beberapa kelompok sesuai dengan jenis permintaan yang dikandungnya : [21]
1. Kemudahan dalam mendapatkan materi:
a. Mohon mendapatkan negeri yang aman (Makkah) dan pen­duduknya diberi rezeki buah‑buahan (QS. al‑Baqarah/2: 126, QS. Ibrahim/14: 35).
b. Mohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat (QS. al‑Baqarah/2:201, QS. al‑A'raf : 155‑156).
c. Mohon diberi makanan dan rezeki yang baik (QS. Ali Imran/3: 27, QS. al‑Ma'idah/5:114).
d. Mohon diberi rezeki dari langit (QS. Ibrahim/14:37).
2. Mohon diberi Anak Cucu:
a. Mohon dijadikan orang yang patuh dan anak cucu yang patuhkepada Allah (QS. Ali Imran/3: 8, QS. al‑Anbi­ya'/11: 89, QS. al-Furqan/25: 74, QS. al‑Shaffat/37:100).
b. Mohon agar diri dan anak cucu jangan sampai menyembah berhala QS. Ibrahim/14:35).
c. Mohon diberi anak cucu sebagai cindera mata dan panutan bagi orang beriman (QS. al‑Furqan/25:74).
d. Mohon diberi keturunan yang saleh (QS. al‑Shaffat/37. 100).
e. Mohon perbaikan untuk anak cucu (QS. al‑Ahqaf/46:15).
3. Do’a dalam lbadat dan Keagamaan:
a. Mohon ditunjuki tentang manasik dan ibadat (QS. al‑Ba­qarah/2:128).
b. Mohon dikirim utusan (rasul) yang akan membacakan ayat‑ayat Allah, mengajarkan Kitab dan kecerdasan (wa yuzakkihim) (QS. al‑Baqarah/2: 129).
c. Mohon diwafatkan sebagai Muslim yang saleh dan orang baik (QS. Yusuf/12: 101, QS Ali Imran/3:193).
d. Mohon diberi sorga Eden untuk orang lain (QS. Ghafir/ 40:8).
3. Menghadapi Kesulitan dan Musuh:
a. Mohon diberi kesabaran, dimantapkan langkah‑langkah, dan pertolongan melawan orang kafir (QS. al‑Baqarah/ 2:225).
b. Mohon dicatat sebagai orang yang memberikan kesaksian beriman (QS. Ali Imran/3:53, QS al‑Ma'idah/5:79).
c. Mohon bantuan dalam melawan orang kafir dan kelompok perusak (QS. al‑Baqarah/2:250, QS al‑Baqarah/2:289, QS Ali Imran/3:147, QS al‑Ankabut/29:30).
d. Mohon jangan dijadikan sebagai fitnah bagi orang kafir (QS. al-Mumtahinah/ 60 :5).
e. Mohon jangan dijadikan fitnah bagi orang zhalim (QS. Yunus/10:85).
f. Mohon kehancuran atas pemilik kekayaan dan kekuasaan yang menyesatkan orang (QS. Yunus/ 10: 8 8).
4. Memantapkan Kepribadian:
a. Mohon jangan diberi beban yang tidak sanggup dipikul (QS. al‑Baqarah/2:286).
b. Mohon diberi petunjuk dalam urusan (QS. al‑Kahfi/18: 10).
c. Mohon dibukakan jalan kebenaran atas bangsa sendiri (QS. al-A'raf/7:89).
d. Mohon keputusan kepada Allah atas perselisihan kelom­pok masyarakat (QS. al‑Zumar/ 39:46).
5. Pengakuan Iman:
a. Pengakuan mendengarkan dan mentaati perintah Allah (Q.s. al‑Baqarah/2:285).
b. Pernyataan beriman dan mengikuti Rasul (QS. Alu 'Imran/3:193)
c. Pernyataan bahwa masuk neraka adalah kehinaan dan orang zhalim tidak akan mempunyai pendukung (Q.s. Ali Imran/ 3:192).
d. Pernyataan tentang keagungan Allah Yang Maha Suci, me­mulai dengan salam, dan mengakhiri dengan Alhamdu­lillah (QS. Yunus/ 10: 10).
e. Pernyataan tentang keagungan ciptan Allah (QS. Ali Imran/3:19 1).
f. Pernyataan tawakal kepada Allah (QS. Yunus/ 10:85; QS. al‑A’raf/7:89; QS. al‑Mumtahinah/60: 4).
g. Pernyataan tidak berputus asa dalam berdo'a untuk menda­patkan keturunan sekalipun fisik sudah tua bangka (QS. al‑Anbiya’/21:89; QS al‑A’raf/8:4).
h. Pernyataan tentang Allah sebagai tempat kembali (prefe­rence) (QS al‑Baqarah/2:285).
i. Pernyataan bahwa Allah mengetahui yang tampak dan yang tidak tampak di langit dan di bumi (QS. Ibrahim/ 14:38).
j. Pernyataan sebagai Muslim (QS. al‑An’am/6: 79; QS. al­Anfal/8: 161‑162).
k. Pernyataan sebagai pengikut agama Nabi Ibrahim (QS. al-Anfal/8: 161)
6. Perlindungan:
a. Mohon perlindungan dari siksa neraka (QS. al‑Baqa­rah/2:201; QS Ali Imran/3 : 16 dan 191).
b. Mohon perlindungan dari penduduk negeri yang zhalim (QS. al‑Nisa’/4:75).
c. Mohon perlindungan dari kebodohan (QS. al‑Baqarah/ 2:67; QS Had/11: 47).
d. Mohon perlindungan dari godaan dan kehadiran setan (QS. al‑A'raf/7:200; QS. al‑Mu'minun/23:97‑98).
e. Mohon dilepaskan dari kaum yang zhalim (QS. al‑Qa­shash/28:21).
f. Mohon perlindungan dari orang jahat (QS. al‑Kahf/ 18: 18).
g. Mohon perlindungan dari kesesatan (QS. Ali Imran/3: 8).
h. Mohon perlindungan dari kejahatan manusia, jin dan makhluk (QS. al‑Falaq/1 111‑5; QS al‑Nas/114:1‑6).
i. Mohon perlindungan dari penderitaan hari kiamat (QS. Ali Imran/ 3 : 194).
j. Mohon perlindungan agar jangan sampai mendukung para penjahat (mujrimin) (QS al‑Qashash/28:17).
k. Mohon perlindungan sewaktu membaca al‑Qur'an (QS. al‑Nahl/16: 98).
l. Mohon perlindungan dari segala bentuk kegelapan, fisik mental dan spiritual (QS. al‑Falaq/113 : 3)
m. Mohon perlindungan dari kejahatan tukang sihir dan dukun jahat (QS. al‑Falaq/113: 4)
n. Mohon perlindungan dari kejahatan orang dengki (QS. al-­Falaq/ 113: 5)
7. Ampunan:
a. Mohon diampuni dosa dan kesalahan (QS. al‑Baqarah/ 2:285‑286; QS Ali Imran/3: 193; QS al‑Muntahinah/ 60:5; QS al‑Tahrim/ 66:8).
b. Mohon diampuni atas pemborosan (israf) dalam urusan (QS. Ali Imran/3:147).
c. Mohon ampunan atas kezhaliman diri sendiri (QS. al‑Anbiya’/ 21: 87; QS. al‑Qashash/ 28:16).
d. Mohon ampunan atas diri, kedua orang tua, dan orang-orang beriman (QS. Ibrahim/14: 41).
e. Mohon ampunan untuk ayah yang sesat (QS. al‑Syu'ara’/ 26:87).
f. Mohon ampunan atas orang taubat (QS. Ghafir/40:7)
8. Do’a Khusus:
a. Do'a kesembuhan dari sakit dan penderitaan (QS. al‑Anbiya’/21:83)
b. Do'a mendapatkan anak saleh (QS. al‑Kahf/18:5; QS. al‑Anbiya’/21:89; QS al‑Shaffat/37: 100).
c. Do’a mendapatkan ilmu (QS. Thaha/20:114).
d. Do’a minta dimudahkan urusan (QS. al‑Kahf/ 18: 10).
e. Do’a minta dilapangkan dada, dibukakan pikiran dan dilan­carkan ucapan (QS. Thaha/20:25).
f. Do’a sewaktu menaiki kendaraan (QS. Hud/ 11: 141).
g. Do’a sewaktu kendaman akan berjalan (QS. al‑Zukhruf/ 43:13‑14).
h. Do’a sewaktu akan turun dari kendaraan (QS. al-Mu'mi­nun/23:29).
i. Do’a sewaktu dikejutkan oleh mimpi buruk (QS. al-Mu'minun/ 23: 97‑98).
j. Do’a syukur nikmat atas diri sendiri dan kedua orang tua (QS. Yusuf 12: 101; QS al‑Naml/27:19; QS al‑Ahqaf/ 46:15).
Dari pengelompokan di atas dapat dilihat bahwa formula do'a dalam al‑Qur’an mencakup bidang yang sangat luas. Ia meliputi permohonan kepada Allah Swt. tentang kemudahan materi, anak cucu, ibadat/keagamaan, kesulitan dan musuh, pemantapan kepribadian, pemyataan iman, kekuatan materi dan kekuasaan, perlindungan, ampunan, dan do'a untuk kesempatan-kesempaan tertentu.
Kandungan formula ini sebenarnya menggambarkan manusia sebagai manusia yang mempunyai ambisi-ambisi, kecemas­an-kecemasan, harapan-harapan, kelemahan-kelemahan, dan kondisi-kondisi khusus. Jadi, secara tidak langsung, ia juga mengingatkan kita akan kemampuan kemanusiaan kita yang terbatas dan kebutuhan manusia kepada Allah dalam segala keadaan. Dengan mengucapkannya pada saat‑saat yang tepat, kita akan merasakan seperti menyelami diri sendiri dan menjalani hidup dengan penuh optimisme di bawah lindungan dan karunia Allah. Inilah inti dari seluruh do'a, dan karena itu tidak meng­herankan bila Rasul Saw. bersabda bahwa do'a adalah senjata orang beriman.
Do'a adalah kontak batin dengan Allah sebagai perwujud­an pengabdian hamba yang tulus ikhlas kepada‑Nya. Ia menjadi terkabul karena disertai oleh usaha manusia untuk mencapainya dan tekad untuk mengikuti tuntunan Allah dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad bin Ismail al-Kahlani, Subul as-Salam, (Bandung: Dahlan, [t.th.]), Juz IV, h. 212
[1] Abu Louis al-Ma’luf, Munjid fi al-Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar al-Fikr Maktabah Syarifiyah, 1986), h. 216
[1] Fairuz Zabady, Kamus al-Muhith, (Beirut: Dar al-Jail, [t.th.]), Juz IV, h. 329
[1] M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a, (Jakarta: Bulan Bintang, 1956), h. 96
[1] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, Mu’jam Alfazh al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Syuruq, t.t.), h. 204
[1] CD al-Qur’an al-Karim
[1] Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), Juz VIII, h. 237
[1] CD al-Qur’an al-Karim, Tafsir Ibnu Katsir
[1]Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Judul Asli: Khulu’ al-Muslim, terjemahan Muh. Rifai, (Semarang: Wicaksana, 1993), h. 139
[1]Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Beirut: dar Fikr, 1973), jilid V, h. 475
[1]Ibnu Manzur, Lisan al-‘Arab al-Muhith, (Beirut: dar al-Ma’arif, t,th,) jilid IV, h. 13)
[1]Muhammad Rasyid Ridha, op.cit., Juz VIII, h. 456
[1]Al-‘Alamah as-Sayyid Muhammad Husein at-Thabathabai [selanjutnya disebut Thabathabai], Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-A’lamy lilmathbu’at, 1991), Juz VIII, h. 162
Ibid., Juz XIV, h. 7
[1]Rifyal Ka’bah, Dzikir dan Do’a dalam al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 37 - 43
[1] Muhammad bin Ismail al-Kahlani, Subul as-Salam, (Bandung: Dahlan, [t.th.]), Juz IV, h. 212
[2] Abu Louis al-Ma’luf, Munjid fi al-Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar al-Fikr Maktabah Syarifiyah, 1986), h. 216
[3] Fairuz Zabady, Kamus al-Muhith, (Beirut: Dar al-Jail, [t.th.]), Juz IV, h. 329
[4] Muhammad bin Ismail al-Kahlani, loc. cit.
[5] M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a, (Jakarta: Bulan Bintang, 1956), h. 96
[6] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, Mu’jam Alfazh al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Syuruq, t.t.), h. 204
[7] M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a, (Jakarta: Bulan Bintang, 1956), h. 96
[8] CD al-Qur’an al-Karim
[9] Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), Juz VIII, h. 237
[10] CD al-Qur’an al-Karim, Tafsir Ibnu Katsir
[11] Ibid., h. 17
[12]Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Judul Asli: Khulu’ al-Muslim, terjemahan Muh. Rifai, (Semarang: Wicaksana, 1993), h. 139
[13]Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Beirut: dar Fikr, 1973), jilid V, h. 475
[14]Ibnu Manzur, Lisan al-‘Arab al-Muhith, (Beirut: dar al-Ma’arif, t,th,) jilid IV, h. 13)
[15]Muhammad Rasyid Ridha, op.cit., Juz VIII, h. 456
[16] Ibid., h. 457
[17]Al-‘Alamah as-Sayyid Muhammad Husein at-Thabathabai [selanjutnya disebut Thabathabai], Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-A’lamy lilmathbu’at, 1991), Juz VIII, h. 162
[18]Al-‘Alamah as-Sayyid Muhammad Husein at-Thabathabai [selanjutnya disebut Thabathabai], Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-A’lamy lilmathbu’at, 1991), Juz VIII, h. 162
[19]Lihat [19] Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, [t.th.]), Cet. ke-4, h. 182.
[20]Ibid., Juz XIV, h. 7
[21]Rifyal Ka’bah, Dzikir dan Do’a dalam al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 37 - 43