Selasa, 29 September 2009

Silat Harimau, Keindahan yang Mematikan

Kuncian dan tangkapan menjadi ciri khas aliran ini.
Gerakan dua orang itu sungguh indah dan menawan. Melompat dan bersalto, menjatuhkan diri ke lantai dengan kaki berputar, kadang terbang menaiki tubuh lawan lalu bersama-sama bergulung menyusur lantai.
Tapi, jangan salah, pasangan itu tidaklah sedang berakrobat, juga bukan memperagakan tarian nan rancak. Mereka adalah dua orang yang tengah memamerkan teknik Silat Harimau, yang diwarnai jurus-jurus atraktif, akrobatik, dan menawan. Meski tampak indah, di ujung tiap gerakannya justru selalu ada kuncian dan tendangan yang berbahaya serta mematikan bagi lawan.
“Seperti gerakan harimau yang lincah dan menarik, tapi juga menyiratkan ancaman bahaya dan kematian,” kata Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam kepada Tempo, yang menonton aksinya di acara diskusi Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia di Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah, pertengahan bulan lalu.
Datuk Edwel–demikian ia biasa disapa–ketika itu mengenakan ikat kepala batik dengan ujung kain dibuat menonjol ke atas di dua ujung sisi kepala. Itulah yang disebut ikat kepala atau “deta” harimau, sebuah penanda bagi praktisi Silat Harimau. Tapi Edwel lebih dari sekadar praktisi. Dia sudah belajar aliran itu sejak usia dini dan kini telah menjelma menjadi seorang guru.
Silat Harimau salah satu aliran silat yang berasal dari Sumatera Barat. Edwel mempelajarinya dari banyak guru yang tersebar di Minang. Langkah pembelajarannya dimulai dari almarhum kakeknya, Dina Sutan Mangkuto.
Semasa hidupnya, sang kakek yang biasa dipanggil Inyak Anguik (Inyak adalah sebutan Minang untuk kakek) merupakan guru Silat Harimau yang terkenal di Balingka. “Sampai sekarang, kalau saya pulang kampung, selalu saja orang-orang tua di sana menceritakan kesaktian kakek saya itu, yang ketika itu bahkan memelihara delapan ekor harimau Sumatera di rumahnya. Harimau sungguhan, bukan harimau siluman,” kata Edwel.
Tapi Inyak Anguik tidaklah langsung mengajarkan silat itu kepada Edwel. Dia hanya mengajarkannya dasar-dasar beladiri sejak usia 10 tahun. Begitu bekal yang dimilikinya cukup, barulah ia menyuruh Edwel belajar Silat Harimau ke beberapa guru.
Edwel kemudian berguru teknik tangkapan dan kuncian dari Sidi Bakar dari Perguruan Baringin Sakti, Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat. Ia juga memperdalam kuda-kuda dan teknik kuncian dari Enek Zainal di Pasaman Barat. Zainal, yang dikenal dengan julukan Harimau Berantai, mengajarnya dengan metode yang keras dan dilakukan pada malam hari.
Edwel juga sempat menimba ilmu dari Tadjudin Salim, yang dipanggilnya Pak Gaek dan terkenal dengan nama Malin Sampono. Uwan Muri di Linatu Tanah Datar–sekitar 60 kilometer dari Bukittinggi–sempat pula ia datangi. Kepada guru itu ia belajar teknik kuncian, termasuk latihan teknik dasar cakar dan cekikan dengan merobek tempurung kelapa dengan cakar tangan.
Dari kedua guru yang disebut terakhir itu, ia pun belajar teknik “mandi minyak angek”. Minyak kelapa yang dihangatkan semalaman saat itu dibalurkan ke badannya, yang membuatnya licin dan membantunya belajar teknik melepaskan diri dari kuncian.
Masih ada sesepuh lain tempatnya berguru. Sebut saja Emak Indo dari Balingka, yang juga menguasai aspek supranatural dari Silat Harimau. “Tapi saya tidak belajar aspek kebatinan itu,” katanya. Ia hanya belajar teknik tangkapan dan kuncian. Hal yang sama juga ia pelajari dari Datuak Kurai di Bukittinggi.
Kuncian dan tangkapan memang menjadi ciri khas Silat Harimau. Melumpuhkan lawan lebih kerap dilakukan dengan menangkap serta mengunci tangan, kaki, atau leher lawan. Umumnya, kuncian dilakukan sambil membawa lawan ke tanah. Kuncian itu akan sangat menyakitkan terhadap lawan yang rebah dan membuatnya tidak berkutik. Bila aliran silat lain bertarung dengan berdiri, Silat Harimau juga memiliki aplikasi teknik bertarung di bawah, seperti harimau yang bergumul dengan lawannya di tanah.
Manakala bertarung berdiri, Silat Harimau memiliki teknik akrobatik dan beragam, termasuk menyerang dengan lutut sambil menaiki tubuh musuh, serta teknik-teknik lainnya yang justru kerap diaplikasikan dalam teknik beladiri asing. Tak mengherankan jika aplikasi jurus-jurus Silat Harimau tak hanya efektif dan mematikan, tapi juga indah dan enak dilihat.
Karakter lainnya dari Silat Harimau adalah tak ada pukulan dengan tinju, tapi dengan pukulan cakar dengan telapak tangan terbuka. Cakar ini diarahkan ke muka, leher, dan kemaluan lawan. Bentuk tangan terbuka ini juga efektif untuk menangkap dan mengunci anggota tubuh lawan. Nah, siapa mau belajar?
Asing Lebih Antusias
Lahir di Bukittinggi, 6 Juli 1963, Edwel Yusri menempuh pendidikan akhirnya di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah di Jakarta. Tapi aktivitasnya tak pernah jauh dari melatih silat.
Dia pernah membagi ilmu di Perguruan Satria Muda Indonesia, Batalion Resimen Komando Kostrad 328 di Serpong, Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia di Depok, bahkan melatih anggota satuan keamanan stasiun televisi RCTI. Pengalamannya melatih membawa ia dan anak muridnya melanglang buana ke luar negeri, termasuk tampil di International Martial Arts Festival di Paris pada 2004.
Ia membentuk Yayasan Paguyuban Ikhlas yang berpusat di Tanah Abang. Yayasan itu kemudian menerbitkan buku tentang Silat Harimau dalam bahasa Inggris, yang ditulis oleh Sekretaris Jenderal Persekutuan Silat Antarbangsa (Persilat) Hariadi Anwar.
Edwel semula berniat mengajar silat terutama kepada komunitas warga Minang di Jakarta, tapi sekarang ia justru lebih tertarik melatih orang asing. Terakhir ada dua warga asing asal Inggris yang datang berlatih. “Orang-orang bule itu saya suka karena mereka antusias dan bersemangat ketika belajar,” katanya. “Mereka juga berdisiplin dalam latihan.”
Sementara itu, orang kita dinilainya tak punya semangat. “Sulit sekali mencari anak-anak muda yang tertarik belajar silat,” katanya. Kalaupun ada yang belajar, “Lebih banyak mengeluh, tidak antusias, dan sering datang terlambat.” Untunglah kini ia sudah memiliki empat orang murid yang konsisten belajar. Uniknya, “Tak ada satu pun dari mereka yang orang Minang,” ujarnya sambil tertawa.

Selasa, 01 September 2009

PENINGKATAN PRESTASI IBADAH

Ramadhan Great Sale. Jangan lewatkan : Obral Pahala sebesar-besarnya dengan Diskon dosa hingga 99 % plus doorprize Lailatul Qadr. Buruan! Hanya 30 hari!!

Pernyataan di atas, bak iklan dari sebuah Mall terkenal yang menawarkan potongan harga plus dengan keuntungan yang berlipat dalam waktu tertentu. Jika diambil ibarat, inilah yang dipublikasikan, diklankan Allah Swt dalam al-Qur’an, hadits, dan kisah orang terdahulu. Bagaimana mensiasatinya.
Suatu niat dari awal menjalankan puasa Ramadhan adalah bahwa ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang dilakukan harus dapat merubah dan memberikan hasil yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, dan perubahan dalam kehidupan sosial. Bukankah Allah telah menyatakan : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan (nasib) yang ada pada diri mereka sendiri”.
Bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan di antaranya peningkatan ibadah puasa, peningkatan frekwensi tilawah Al-Quran, peningkatan aktifitas sosial, seperti infaq, memberi makan pada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, serta beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Serta, sesuatu yang tak kalah penting adalah merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif.
Pada bulan Ramadhan syetan dibelenggu, dan hawa nafsu dikendalikan melalui puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah tersebut sangat kondusif untuk bertaubat dan meletakkan fondasi untuk memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur: 31).
Oleh karena itu, pada bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud: 52)
Keseluruhan ibadah dalam bulan Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang atau kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang atau kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan kepada kita semua, sehingga kita dapat beribadah secara maksimal di bulan suci Ramadhan tahun ini. Akhirnya marilah kita berdo’a, “Wahai Pemilik pujian dan sanjungan, wahai Pemilik keagungan dan kebesaran, wahai Pemilik kemuliaan dan derajat, wahai Pemilik janji dan kesetian, wahai Pemilik ampunan dan ridha, wahai Pemilik karunia dan pemberian, wahai Pemilik keutamaan dan ketentuan, wahai Pemilik kemuliaan dan keabadian, wahai Pemilik kedermawanan dan kasih sayang, wahai Pemilik karunia dan kenikmatan. Maha Suci Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau, Pemberi segala pertolongan, selamatkan kami dari api neraka ya Rabb”.