Selasa, 16 Juni 2009

BERFIKIR DAN ZIKIR

A. Pendahuluan
Di dalam kajian filsafat istilah berfikir merupakan kajian yang tidak asing lagi, karena segala sesuatu yang lahir dalam filsafat melalui jalan berfikir. Namun dalam mamaknai kata berfikir ini, sering kali terjadi perbedaan pendapat. Ketika seseorang dikatakan berfikir, seolah-olah dia sedang melibatkan segenap kemampuan akalnya untuk sesuatu Begitulah barang kali gambaran berfikir.
Di dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern berfikir ditujukan untuk menghasilkan teori, mengkaji teori yang lama, memperbaharui teori, dan masih banyak lagi kegunaannya. Lebih dari itu seorang manusia memang telah tercipta dengan kemampuan akal yang mampu untuk memikirkan segala sesuatu yang dapat ditangkap dengan indranya. Seperti isyarat yang mengatakan bahwa “Pikirkanlah tentang ciptaan Allah, dan jangan pikirkan tentang zat Allah”.
Ini merupakan isyarat bahwa segala yang ada di alam telah diperintahkan untuk memikirkannya. Dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 191 berbunyi:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(ال عمران: 191)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)
Di dalam agama Islam tujuan memikirkan alam adalah semata-mata untuk ingat kepada Pencipta alam ini yaitu Allah SWT. inilah yang disebut dengan tazakkur atau zikrullah. Berbeda dengan berfikir yang dipahami secara umum terkadang manusia terlepas dari kedekatannya dengan Allah. Zikir justru tujuan utamanya adalah ingat kepada Allah.
Di sini nampak perbedaan berfikir dalam Islam dan berfikir hanya dalam kajian keilmuan. Zikir memang semata-mata ditujukan untuk ingat, bukan untuk menciptakan suatu teori ilmu pengetahuan, dan bukan pula untuk mengkaji-suatu produk ilmu, seperti yang dihasilkan oleh berfikir yang dipahami secara umum. Walaupun zikir juga menggunakan metode berfikir yaitu mengerahkan kemampuan akal untuk mengingat, namun zikir tujuan atau hasil akhirnya adalah kedekatan dengan Allah. Kalau dalam tasawwuf hal ini bisa mencapai suatu keadaan manusia merasa bersatu dengan Pencipta.[1]
Namun hubungan antara zikir dan fikir ini sangat diperlukan dalam sebuah produk pengetahuan, karena tanpa ingat kepada Allah sebuah pengetahuan akan sia-sia adanya. Ia tidak akan lagi memperhatikan norma agama. Demikian juga zikir tanpa pengetahuan juga tidak jelas arah dan tujuannya.
Untuk lebih jelasnya tentang berfikir dan zikir ini, pada pembahasan ini akan dipaparkan beberapa penjelasan tentang berfikir dan zikir ini.
B. Berfikir
Berfikir merupakan ciri utama manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan dasar berfikir ini manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berfikir disebut juga proses bekerjanya akal, manusia dapat berfikir karena manusia berakal. Dengan demikian akal merupakan intinya, sebagai sifat hakikat, sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat zat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal.[2]
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai rasa untuk mencapai kebaikan. Dengan akan inilah manusia berfikir untuk mencari kebenaran hakiki. berfikir banyak sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiyah. Di bawah ini akan dijelaskan kedua macam cara berfikir ini:
1. Berfikir alamiyah yaitu pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya, misalnya: penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar, jika kayu didekatkan ke api pasti akan terbakar.
2. Berfikir ilmiyah, yaitu pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat. Misalnya dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan. Contohnya panas dan dingin. Tidak bisa bersatu dalam satu keadaan pada sebuah situasi.
Di dalam pembahasan berfikir, berfikir ilmiahlah yang kerap menjadi pembahasan yang tentu saja menggunakan sarana ilmiah. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, dan bahkan mutlak diperlukan, karena tanpa penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiyah yang baik.
Namun dalam pembahasan ini, lebih jauh tidak akan dibahas tentang sarana berfikir ilmiyah. Akan tetapi pembahasan ini akan lebih didekatkan kepada pemahaman tentang berfikir itu sendiri.
Ada beberapa azas dalam berfikir tersebut, di antaranya:
1. Asas identitas (principium identitas = qanun zatiyah)
Ini merupakan dasar dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran lain. Seseorang tidak akan mungkin dapat berfikir tanpa azas ini. prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah dia sendiri bukan yang lainnya. Jika diakui sesuatu itu adalah Z maka ia adalah Z dan bukan A, B, atau C. jadi apabila proposisi itu benar maka benarlah dia.
2. Asas Kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud)
Asas ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkink pada saat ia adalah A, sebab realitas ini hanya satu sebagaimana disebut oleh asas identitas. Dengan kata lain: Dua kenyataan yang kontradiktoris tidak mungkin bersama-sama secara simultan. Jadi tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.
3. Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exlusi tertii = qanun intina’)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu di samping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah salah keduanya. Mengapa tidak mungkin salah kedua-duanya? Bila pernyataan dalam bentuk positifnyah salah berarti ia memungkiri realitasnya, atau dengan kata lain realitas ini bertentangan dengan pernyataannya. Dengan begitu maka pernyataan berbentuk ingkarlah yang benar, karena inilah yang sesuai dengan realitas. Juga sebaliknya, jika pernyataan ingkarnya salah, berarti ia mengingkari realitasnya, maka pernyataan positifnya yang benar, karena ia sesuai dengan realitasnya. Pernyataan kontradiktoris kebenarannya terdapat pada salah satunya (tidak memerlukan kemungkinan ketiga). Jika kita rumuskan, akan berbunyi “Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah”.[3]
Di dalam membahas tema berfikir ini, nampaknya tidak mungkin lepas dari logika, memang demikianlah logika dan berfikir memang identik dan sama. Walaupun pada logika selalu dilengkapi dengan premis-premis sebagai bahan berfikir.
Jadi ada beberapa pertanyaan yang muncul berkenaan dengan berfikir. Pertama, apakah sebenarnya berpikir ? secara umum maka tiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebaginya dapat disebut berpikir. Umpamanya, jika seseorang bertanya kepada saya, “apakah yang sedang kamu pikirkan ?” mungkin saya menjawab, “saya sedang memikirkan keluarga saya.” Hal ini berarti bahwa bayangan, kenangan dan sebagainya akan hadir dan ikut mengikuti dalam kesadaran saya. Karena itu maka definisi yang paling umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. [4]
Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara berpikir yang berdisiplin, dimana seseorang yang berpikir sungguh-sungguh takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkan nya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu. tujuan tertentu itu, dalam hal ini, adalah cara berpikir yang didisiplinkan dan diarahkan kepada pengetahuan.[5]
Akan tetapi bagaimana pemikiran seperti itu akan membuahkan pengetahuan bagi manusia? seseorang mungkin berpikir bahwa objek yang ingin kita ketahui sebenarnya sudah ada, sudah tertentu (given), jadi disini tak diperlukan adanya pemikiran, yang harus dilakukan hanyalah sekedar membuka mata kita atau memusatkan perhatian kita terhadap objek tersebut. kalau ternyata objek yang ingin kita ketahui itu belum tertentu (non-given) maka kelihatannya berpikir tidak akan pernah mendekatkan kita kepadanya. namun semuanya itu ternyata tidak benar. Dalam kedua hal diatas, kalau kita mau menyimak pengalaman kita, berpikir ternyata memerankan peranan yang sangat membantu bahkan sangan menentukan.
Umpamanya marilah kita lihat dalam contoh yang pertama, dimana obyek yang ingin diketahui sudah tertentu. yang harus disadari adalah bahwa obyek tersebut tak pernah sederhana. Biasanya obyek itu sang at rumit. Mungkin mempunyai beratus-ratus segi, aspek, karakteristik dan sebaginya. Pikiran kita tak mungkin untuk mencakup semuanya dalam suatu ketika. Dalam rangka untuk mengenal benar-benar obyek semacam itu, seseorang harus dengan rajin memperhatikan semua seginya, membanding-bandingkan apa yang telah dilihatnya, dan selalu melihat serta menganalisis obyek tersebut dari berbagai-bagai pendirian yang berbeda. Kesemuanya ini adalah berpikir.
Marilah kita ambil contoh cara berpikir dalam menghadapi hal semacam ini. umpamakan saja bahwa terdapat noktah merah di muka mata saya. Mula-mula seseorang mungkin akan membayangkan bahwa hal ini adalah sangat sederhana, bahwa yang perlu dia lakuakn hanyalah sekedar membuka matanya untuk dapat melihat noktah tetrsebut. Tetapi ternyata bahwa hal itu tidak sedemikian mudah : karena takkan terdapat sebuah noktah merahpun tanpa adanya suatu latar belakang dan warna latar belakang haruslah berbeda denga noktah tersebut. kedua, dalam fakta yang sederhana ternyata kita temukan hal-hal yang istimewa : noktah tersebut ternyata tidak hanya mempunyai warna namun juga mempunyai dimensi, yakni panjang dan lebar yang tertentu. tetapi dimensi-dimensi itu bukanlah warna melainkan sesuatu yang lain sama sekali, meskipun harus mempunyai sesuatu yang berkaitan dengan warna. Ketiga, dimensi-dimensi ini sendiri pun ternyata tidak cukup. Noktah tersebut juga mempunyai bentuk, umpamanya persegi atau bulat. Kemusian jika kita kaji lebih lanjut, ternyata bahwa warna pun bukan masalah yang sederhana,. Memang warna noktah itu merah namun tidak serupa denga warna merah lainnya. Agak mempunyai karakteristik tertentu., semacam keunikan. Jika terdapat dua noktah, maka biasanya keunikan itu tidak sama. Dalam menganalisa warna ini maka seseorang akan bisa melangkah lebih jauh. Seseorang yang telah mempelajari teori warna akan akan bisa mendiskusikan umpamanya tentang intensitas warna noktah tersebut. jika kita perhatikan lebih lanjut bahwa noktah itu tidak hanya muncul dalam latar belakang warna yang berbeda namun jugapada sesuatu yakni sipembawa noktah tersebut. disini lalu kita menemukan paling tidak tujuh unsur ; latar belakang , warna, dimensi, bentuk, keunikan, intensitas, dan akhirnya dipembawa. Dan semuanya ini baru permulaan.
Contoh di atas adalah masalah yang sangat sederhana bahkan kelihatannya remeh. Dalam menghadapi obyek mental seperti “maaf” atau “bakat” maka seseorang dapat membayangkan betapa kerumitan yang terdapat dalam hal ini, dan betapa besar usaha yang harus dilakukan dalam berpikir untuk mendekatkan kita pada permasalahan ini sampai tahapan teretentu.
Dalam sejarah, cara berpikir seperti ini selalu dilakukan oleh para ahli falsafah. Salah satu ahli falsafah terbesar adalah Aristoteles. Pada permulaan abad ini, seorang pemuka falsafah bangsa Jerman bernama Edmund Husserl, menguraikan dengan jelas dan tajam metode ini. dia menyebutnya fenomenologi. Fenomenologi paling tidak dalam tulisan Husserl yang mula-mula – adalah metode yang mengusahakan untuk memahami esensi dari obyek yang tertentu dengan analisis yang kurang lebih sama seperti apa yang telah kita kemukakan di atas. [6]
Nampaknya ketika tema berfikir ini diangkat, maka sebenarnya banyak lagi masalah yang berlum terungkap dalam uraian di atas. namun sebenarnya yang penting dipegang adalah bahwa berfikir memang suatu upaya untuk mengerahkan kemampuan akal yang dianugerahkan oleh Allah SWT.
Seperti yang diungkap oleh Yoesoef Sou’yb bahwa secara sederhana, pada saat tertentu seseorang mendengar suatu keterangan, kemudian pada saat lain didengar pula satu keterangan lagi. Dua keterangan ini otomatis tersimpan tanpa disadari oleh otak. Kemudian pada suatu saat mendadak muncul dan menghubungankan keterangan-keterangan yang ada di benak terdahulu. Maka dalam hal terjadilah kegiatan di dalam otak yang berusaha memperjelas titik-titik hubungan dari keterangan tersebut. demikianlah proses berfikir terjadi untuk mencapai tujuan yakni suatu kesimpulan tentang keterangan-keterangan itu. [7]
C. Zikir
Perkataan “zikir” dapat diartikan dengan ingat, namun yang dimaksud dengan zikir ini ialah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Athaillah ialah: “menyingkirkan lupa dan lalai dengan selalu ingat hati kepada Allah”. [8]
Defenisi lain mengatakan bahwa zikir ialah “menyebut Allah dengan membaca tasbih (subhanallah), membaca tahliel (la-ilaha illallah), membaca tahmid (alhamdulillah), membaca hauqalah (la haula wa la quwata illa billahi), dan lain sebagainya. [9]
Termasuk yang dipandang sebagai zikir (mengingat Allah) mengerjakan segala rupa keta’atan kepada Allah. Jadi, majlis-majlis yang diadakan untuk membocarakan masalah agama, bisa juga disbeut dengan majlis zikir.
Al-Hafiz dalam Fat’hul Ba’ry mengatakan bahwa zikir ialah segala lafaz (ucapan) yang disukai umat membacanya dan memperbanyak membacanya untuk menghasilkan jalan mengingat dan mengenang Allah. [10]
Ibnu Athaillah membagai bentuk zikir kepada tiga macam yaitu: [11]
1. Zikir jalli, yaitu zikir lisan, yang berupa ucapan yang mengandung arti pujian, pujaan dan syukur kepada nikmat Allah. Zikir lisan ini cukup dengan mengucapkan tanpa disertai dengan ingatan hati.
2. Zikir khafi adalah zikir hati dengan menghilangkan rasa kebosanan, dan selalu kekal musyahadah kepada Tuhannya.
3. Zikir hakiki, ialah zikir seluruh tubuh dan seluruh anggotanya ialah dengan memelihara anggotanya dari yang dilarang Allah dan mengerjakan apa yang diperintah Allah.
Manusia yang diberkahi dengan pengetahuan batin memandang zikir senantiasa dan terus menerus mengingat Allah- sebagai metode paling efektif untuk membersihkan hati dan mencapai kehadirat Ilahi.[12]
Objek segenap ibadah ialah mengingat Allah dan hanya terus menerus mengingat Allah sajalah yang bisa melahirkan cinta kepada Allah serta mengosongkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia fana ini. [13]
Zikir merupakan rangka dari keimanan, banyak ayat-ayat yang berbicara tentang ini, di antaranya:
Firman Allah :
al-Ahzab: 41-42
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا(الاحزاب41- 42)
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. al-Ahzab: 41-42

an-Anfal: 45
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الأنفال: 45)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.(QS. al-Anfal: 45)
al-Baqarah: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ (البقرة: 152)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) –Ku. (QS. al-Baqarah: 152)
al-A’raf:205
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ(الأعراف: 205)
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS. al-A’raf: 205)
al-Zukhruf: 36
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ(الزخرف: 36)
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.(QS. az-Zukhruf: 36)
al-Mujadalah: 19
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَّ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ(19)
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.
an-Nisa: 142
الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً (النساء: 142)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. an-Nisa: 142)
Ayat-ayat di atas mengandung perintah dan petunjuk untuk melaksanakan zikir. Dan dengan memperhatikan ayat di atas dapat diperoleh bahwa sebab kebanyakan manusia melupai tugas menyebut Allah (berzikir) adalah karena jiwanya telah dipengaruhi oleh syetan.
Jadi orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah, yang ingin memperoleh kesempurnaan imannya, tidaklah dia akan mempermudah-mudah dan melengahkan zikir.
Zikir merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dalam sepanjang hidupnya, karena manusia dalam hidup ini tidak terlepas dari empat keadaan, dalam keaadaan taat, apabila ia selalu ingat kepada Allah pada saat itu, maka akan lahirlah suatu keyakinan bahwa ketaatan yang diperbuatnya adalah merupakan karunia Allah dan dengan taufikNya. Dengan keyakinan ini, terhindarlah ia dari sifat ujub ialah menyandarkan ketaatan itu kepada perbuatannya sendiri, keyakinan yang seperti itu adalah hijab , dan penyakit yang meruntuhkan pahala dari amal ibadahnya. Kalau manusia dalam keadaan maksiat maka dengan zikir kepada Allah, akan dapat membagnkitkan kesadarannya untuk memperbaikikeadaan dirinya dengan bertaubat, dengan bertaubat ia menjadi manusia yang mencintai Allah dan Allaj pun mencintainya. Dengan keyakinan itu pula ia sadar bahwa kemaksiatan adalah hijab yang melindungi antaranya dengan tuhannya, dan kemaksiatan itu pula yang akan menjurumuskan kejurang kebinasaa. Kalau ia dalam keadaan memperoleh nikmat, apakah harta, pangkat, atau kemewahan-kemewahan lainnya, dengan zikir akan menimbulkan keinginan untuk mensyukuri nikmat Allah, dengan bersyukur kepada nikmat, maka nikmat yang ada pada tangannya akan tetap dan bertambah, sebaliknya kalau ia telah lupa atau kufur terhadap nikmat, nikmat akan ditarik dan akan menjadi bencana baginya. Kalau ia dalam keadaan menderita dengan ingat kepada Allah, timbullah keyakinan bahwa setiap cobaan ia harus menghadapinya dengan sabar, dengan sikap sabar terhadap cobaan ini, Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda serta menghindarkan dirinya dari cobaan tadi.
Disamping itu, kegunaan zikir ini bersifat umum adalah untuk :
1. Memperlunak hati manusia sehingga hati manusia dapat melihat kebenaran dan bersedia mengikuti dan menerima kebenaran.
2. Membangkitkan kesadaran bahwa Allah Maha Pengatur dan apa yang telah ditetapkanNya adalah baik, hanya mungkin pada sesuatu saat manusia manilainya tidak baik, karena pertentangan dengan hawa nafsu keinginannya namun apa yang terjadi manusia belum mengetahui hikmahnya, barulah ia sadar bahwa Allah tidak menghendaki melainkan yang baik saja, karena itu ia harus reda menerima apa yang terjadi.
3. Meningkatkan mutu apa yang telah dikerjakan, karena sesuatu amal perbuatan, Allah tidak menilainya dari segi lahirnya saja, tetapi Allah manilai dari motif dan keikhlasan dalam memperbuatnya, apakah pada saat memperbuat perbuatan itu denga keyakinan bahwa perbuatan itu terjadi dengan kurnia Allah atau dari yang lainnya.
4. Memelihara diri dari godaan syetan, memang syetan hanya dapat menggoda dan menipu manusia yang lupa dan lalai kepada Allah. Karena syetan itu sendiri adalah musuh yang membinasakan manusia dengan zikir berarti kita telah dapat menyelamatkan diri dari kebinasaan.
5. Kemaksiatan yang diperbuat oleh seseorang karena kejahilannya terhadap Allah dan hukum Allah. Kalau manusia betrl-betul ingat kepada Allah, tentulah ia tidak akan berbuat sesuatu perbuatan yang dikutuk Allah dan apalagi yang akan menjauhkan dirinya dari Allah.
D. Hubungan Berfikir dan Zikir
Berfikir mempunyai hubungan yang erat dengan zikir. Berfikir dan zikir merupakan dua kajian yang sebenarnya saling terkait. Namun ketika seseorang berfikir belum tentu dia berzikir, tetapi ketika seorang berzikir tercakup di dalam berfikir, sebab ketika seorang berzikir jelas dia juga mengerahkan kemampuan akal untuk mengingat Sang Pencipta. Di sinilah letak perbedaan berfikir dan zikir.
Dalam hubungan selanjutnya terlihat seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, bahwa berfikir tanpa diiringi dengan zikir akan terlepas dari kendali agama yang terdiri norma-norma mengikat supaya terkontrol dalam berfikir. Lebih lanjut agama memberi arah bagi seseorang dalam berfikir. Demikian juga zikir atau ingat kepada sang pencipta merupakan sarana untuk sampai kepada sebuah pengetahuan. Seperti makna Ulil Albab yang dibicarakan dalam al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 191 berbunyi:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(ال عمران: 191)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)
Perpaduan kata يَذْكُرُونَ dan kata وَيَتَفَكَّرُونَ dalam ayat ini mengindikasikan sebuah hubungan yang erat antara fikir dan zikir. Inilah yang menyebabkan di dalam Islam fikir tanpa zikir akan menjadi hampa dan sebaliknya zikir tanpa fikir tidak akan bermakna.
E. Kesimpulan
Dari keterangan yang dipapar tentang berfikir dan zikir. Dapat diambil kesimpulan bahwa berfikir dapat dikaterogikan kepada dua keadaan, yaitu berfikir yang semata-mata untuk menghasilkan suatu pengetahuan dan berfikir untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang tujuan akhirnya adalah untuk tazakkur kepada Pencipta Segala.
Di dalam Islam tafakkur yang dimaksud sebagai berfikir sering kali berbarengan dengan tafakkur. Jadi di dalam al-Qur’an berfikir yang dimaksud adalah berfikir yang bertujuan untuk mengingat (tazakkur) kebesaran Allah yang menciptakan alam dan segala isinya, yang menjadi sumber dari kegiatan berfikir itu sendiri. Jadi terlihat adanya hubungan yang harmonis antara fikir dan zikir dalam al-Qur’an.
Berbeda dengan kaum ateis yang menganggap alam ini sebagai suatu keharusan, jadi alam berevolusi dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan. Melalui paham ini mereka menciptakan berbagai teori yang lahir dari kegiatan berfikir mereka tanpa menghubungkannya dengan paham agama yang mengakui bahwa ada sesuatu di balik alam ini, yaitu suatu kekuatan yang Maha dan Berkuasa.

DAFTAR PUSTAKA
Hoodhboy, Pezvez, Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas antara Sains dan Ortodoksi Islam, terj. Sari Meutia, judul asli: Islam dan Sciense, Religious Orthodoxy and the Battle for Rasionality, Bandung: Mizan, 1996
Munziri, Logika, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Sumantri, Yuyun S. Suria, Ilmu dalam Perspektif, tulisan: JM. Bochenski, Jakarta: Gramedia, 1989, cet. ke-1
Sou’yb, Yoesoef, Logika, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983, cet. ke-1
Sjukur, Asjwadie, Ilmu Tasawwuf, Surabaya: PT.Bina Ilmu 1979
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Pedoman Dzikir dan Do’a, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1956
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Yagyakarta: Liberty, 1996
Valiuddin, Mir, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawwuf, terj. Nasrullah, judul asli: Contempletive Disciplines in Sufism, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
[1]Muhammaed Abdus Salam mengungkapkan bahwa di dalam al-Qur’an bahwa tafakkur dan tazakkur memiliki kapasitas yang sama, menurutnya seperdelapan ayat al-Qur’an berbicara tentang tafakkur dan tazakkur, hal ini tidak lain adalah sebagai motivasi ke arah sains dan teknologi. Lihat Pezvez Hoodhboy, Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas antara Sains dan Ortodoksi Islam, terj. Sari Meutia, judul asli: Islam dan Sciense, Religious Orthodoxy and the Battle for Rasionality, (Bandung: Mizan, 1996), h. 16
[2]Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yagyakarta: Liberty, 1996), h. 97
[3]Munziri, Logika, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 10-11
[4]Yuyun S. Suria sumantri, Ilmu dalam Perspektif, tulisan: JM. Bochenski, (Jakarta: Gramedia, 1989), cet. ke-1, h. 52
[5]Ibid.
[6]Ibid., h. 54
[7]Yoesoef Sou’yb, Logika, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983), cet. ke-1, h. 105
[8]Asjwadie Sjukur, Ilmu Tasawwuf, (Surabaya: PT.Bina Ilmu 1979), h. 125
[9]Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1956), h. 36
[10]Ibid.
[11]Ibid., h. 126
[12]Mir Valiuddin, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawwuf, terj. Nasrullah, judul Asli: Contempletive Disciplines in Sufism, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), h. 84
[13]Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar