Selasa, 30 Juni 2009

USAHA RAHMAH EL-YUNUSIYAH DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Rahmah el-Yunusiyah dilahirkan di Padangpanjang pada tanggal 29 Desember 1900 dan meninggal dunia Padangpanjang pada tanggal 26 Februari 1969. Ia merupakan tokoh pendidikan dan perjuangan Islam, pendiri Madrasah Diniyah Puteri Padangpanjang yang merupakan perguruan wanita Islam pertama di Indonesia, dan pelopor berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatera Barat. Rahmah adalah anak bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Ayahnya adalah seorang qadi di Pandai Sikat yang juga ahli dalarn ilmu falak, kakeknya adalah Syekh Imaduddin, ulama terkenal Minangkabau dan tokoh Tarekat Naksyabandiah.
Rahmah hanya sebentar mengenyam pendidikan dari ayahnya karena ayahnya meninggal ketika ia masih sangat muda. la kemudian dibimbing langsung oleh kedua kakak lelakinya yakni Zainuddin Labay El‑Yunusy dan NI. Rasyad. Zainuddin Labay adalah ulama pembaru dan tokoh pendidikan di Sumatra Barat yang mendirikan Diniyah School. Rahmah sempat masuk Diniyah School hingga kelas tiga, karena tidak puas dengan sekolah yang dianggapnya tidak dapat memecahkan banyak persoalan-persoalan wanita, ia kemudian belajar pada sejumlah guru lain. Ia belajar agama pada ulam-ulama terkenal Minangkabau, seperti Haji Abdul Karim Amrullah, Abdul Hamid Hakim, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi.
Selain ilmu keislaman, ia juga mempelajari ilmu kesehatan (khususnya kebidanan) dan keterampilan wanita seperti memasak, menenun dan menjahit. Kelak ilmu yang diperolehnya ini diajarkannya kepada murid‑muridnya di Diniyah Puteri, melalui pendirian sekolah iutu Rahmah berkeinginan agar wanita Indonesia memperoleh kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita hingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari‑hari.
Gerakan emansipasi wanita dalam bidang pendidikan agama di Minangkabau tidak terlepas dari gerakan pembaruan pendidikan Islam di daerah ini. Salah satu tokoh pembaharu adalah Syekh Abdul Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan “Haji Rasul” yang mengajar di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, menggantikan sahabatnya Haji Abdullah Ahmad yang pindah ke Padang. Meskipun dia tidak merobah lembaga pendidikan Surau, namun dalam pengajaran dia telah memasukan hal-hal yang baru dengan metode pengajaran yang demokratis, Kitab-kitab yang digunakan adalah kitab-kitab berbahasa Arab dan ilmu yang dipelajari juga beragam.
Dari gerakan beliau inilah muncul dan berkembang kemajuan-kemajuan dalam bidang pendidikan agama Islam di Minangkabau. Di antara murid-muridnya yang berhasil mengembangkan sistem pendidikan Islam tersebut adalah dua kakak beradik yaitu Zainuddin Labay El-Yunusi dan adiknya Rahmah El-Yunusiyah.
Dalam makalah berikut, penulis akan membahas tentang ketokohan Rahmah el-Yunusiyah sebagai salah seorang tokoh wanita yang memajukan dunia pendidikan di Minangkabau.
Usaha Rahmah el-Yunusiyah dalam Bidang Pendidikan Wanita
Rahmah el-Yunusiyah sangat menginginkan wanita Indonesia mendapat kesempatan penuh dalam menuntut ilmu pengetahuan, sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dia berpendapat bahwa pembangunan masyarakat tanpa mengikutsertakan wanita bagaikan burung yang ingin terbang dengan satu sayap saja.
Di samping itu banyak hukum agama yang berkaitan erat dengan seluk beluk kewanitaan yang tidak mungkin dibicarakan blak-blakan. Oleh sebab itu perlu adanya sebuah perguruan khusus untuk anak-anak perempuan yang mempelajari hukum-hukum agama Islam.
Cikal bakal Diniyah Puteri bermula dengan di­bentuknya Madrasah Ii Banat (sekolah untuk putri) pada tanggal 1 November 1923. Selama dua tahun pertama cara belajarnya menggunakan sistem hala­qah seperti yang diterapkan di Masjidil Haram, yakni para murid duduk di lantai mengelilingi guru yang menghadap meja kecil. Lama‑kelamaan sekolah ini dapat memiliki gedung sendiri. Berdirinya gedung ini sepenuhnya berasal dari kemauan keras para perintisnya dan simpati masyarakat. Gedung pertama sekolah ini, dibangun dari batu kali yang diangkut sendiri oleh para guru dan murid Diniyah Puteri dan dibantu murid sekolah lain yang ada di Padangpanjang.
Rahmah menolak untuk bekerja sama dengan Belanda seperti penolakannya terhadap paket bantuan buat sekolah dari pemerintah Kerajaan Belanda. Selain itu, Rahmah sangat bertanggungjawab dengan usaha-usaha yang dilakukannya. la tidak hanya memikirkan kemajuan pendidikan murid‑muridnya tetapi memikirkan pula keselamatan jiwa mereka, seperti tindakannya mengungsikan siswanya ketika zaman pendudukan Jepang di Indonesia (1942).
Di samping sebagai pendidik, Rahmah juga seorang pejuang pergerakan kemerdekaan. Ia merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolahnya setelah mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semasa revolusi kemerdekaan, ia dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949 setelah pengakuan kedaulatan. Hingga tahun 1958 ia aktif di bidang politik, antara lain menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Tengah, ketua Barisan Sabilillah dan Sabil Muslimat di Padang, dan anggota Konstituante mewakili Masyumi. Peranannya yang paling menonjol adalah kepeloporannya dalam pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada tanggal 2 Oktober 1945.
Perhatian Rahmah untuk kaumnya memang tidak pernah padam. Rahmah bercita‑cita mendirikan perguruan tinggi Islam khusus untuk wanita dengan sarana yang lengkap. Cita‑citanya ini sebagian sudah terlaksana. Ketika ia wafat, Diniyah Puteri telah memiliki perguruan tinggi dengan satu yakni Fakultas Dirasah Islamiah. la juga bercita‑cita untuk mendirikan rumah sakit khusus wanita.
Di bawah kepemimpinan Rahmah, Diniyah Puteri berkembang pesat. Keberhasilan lembaga ini mendapat perhatian dan pujian dari berbagai to­koh pendidikan, pernimpin, politikus, dan tokoh agama dalam dan luar negeri. Pada tahun 1957 Rahmah memperoleh gelar Syaikhah dari Senat Guru Besar Universitas al‑Azhar, Mesir. Gelar ini belum pernah dianugerahkan kepada siapa pun se­belumnya.
Pendirian Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini merupakan perwujudan dari cita-cita Rahmah el-Yunusiyah yang memiliki kesadaran yang tinggi untuk memajukan kaum wanita dalam bidang pendidikan agama, yang selama ini tertinggal jauh dari kaum pria. Ia sangat menginginkan kaum wanita mendapat kesempatan yang sama dengan kaum pria dalam menuntut ilmu pengetahuan. Sebab hanya dengan ilmu pengetahuan itulah kaum wanita dapat mengejar ketinggalan dari kaum pria. Rahmah el-Yunusiyah menginginkan agar kaum wanita sanggup berdiri di atas kaki sendiri serta mampu menjadi ibu pendidik yang terampil dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Menurut Rahmah, kemajuan dan perbaikan kaum wanita tidak dapat diserahkan kepada orang lain (laki-laki). Akan tetapi mereka sendiri yang harus melakukannya. Salah satu cara untuk memperbaiki nasib serta mengangkat harkat dan martabat kaum wanita itu adalah melalui pendidikan. Berdasarkan pandangan ini maka Rahmah berusaha untuk merealisasikan cita-citanya dalam memajukan kaum wanita melalui pendidikan yang bercorak modern dan berdasarkan prinsip-prinsip agama Islam.
Semua keinginan dan cita-cita Rahmah el-Yunusiyah untuk memajukan pendidikan kaum wanita tersebut kemudian dirumuskan menjadi tujuan pendidikan dari Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, yaitu: “Membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT”.
Guna mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka Rahmah el-Yunusiyah berusaha menyebarluaskan pengetahuan agama Islam kepada kaum wanita yang selama ini sangat susah untuk memperolehnya. Menurut Rahmah karena kurang mendapat kesempatan untuk memperoleh pengetahuan agama kaum wanita selama ini telah terjauh dari pengetahuan agama sehingga senantiasa berada dalam kejahilan. Untuk itu melalui perguruan Diniyah Putri yang didirikannya, Rahmah el-Yunusiyah melakukan berbagai usaha untuk memajukan kaum wanita, di antaranya:
1. Mengadakan program pendidikan umum (general education)
Program ini bertujuan untuk mengembangkan sikap ilmiah anak didik
2. Mengadakan program pendidikan agama
Program ini bertujuan agama pada pelajar memiliki ilmu pengetahuan dalam bidang keahlian agama. Setelah menamatkan studinya, diharapkan para siswa mempunyai bekal pengetahuan tentang agama Islam yang dapat dikembangkan sendiri dalam masyarakat. Untuk mencapai program pendidikan agama ini, maka diajarkan pengetahuan dasar agama Islam, seperti: Fiqih, Tafsir, Nahu, Sharaf, Tauhid, Adab, Tarekh Islami, Hikmah Tasyri’, Insya’, Imla’, Ushul Fiqih, Sejarah Agama, dan lain-lain. Program pendidikan agama inilah yang menjadi ciri khas dari pendidikan yang ada di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang.
3. Mengadakan program pendidikan yang mengarahkan siswi untuk menjadi ibu pendidik yang baik. Untuk itu kepada para pelajar diberikan kelompok pengetahuan yang berkenaan dengan pendidikan anak dan keluarga, seperti: pedagogik, psikologi, serta ilmu bantu lainnya.
4. Mengadakan program pendidikan keterampilan, yaitu pengetahuan praktis yang dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerajinan tangan, keterampilan menjahit, kewanitaan, kepemimpinan, keterampilan berdakwah, dan sebagainya.
5. Mengadakan program pendidikan yang mengarah pada pembentukan kepribadian anak didik, seperti: cara hidup dalam masayarakat, cara memimpin dan dipimpin, cara berpidato untuk melatih berpikir, keberanian dan percaya diri, dan sebagainya. Program pendidikan ini banyak diberikan secara informil dalam asrama dan langsung dipraktekkan di bawah bimbingan guru-guru atau pengawas yang sudah ditunjuk.
Di samping usaha-usaha memajukan kaum wanita sebagaimana disebutkan di atas, masih banyak usaha-usaha lain yang sengaja diprogramkan, terutama yang mengarah pada pembentukan kepribadian anak didik, seperti :
1. Kegiatan ubudiyah, seperti: membaca kitab suci Alquran, shalat berjamaah, mengikuti wirid ceramah agama, dan lain-lain.
2. Kegiatan PKK, seperti: masak- memasak, tata cara menghidang, jahit-menjahit, merenda, membordir, dan merajut, bertenung tanpa mesin dan membatik.
3. Kegiatan organisasi, pramuka, koperasi, kesenian, olahraga, dan lain-lain.
Demikianlah di antara usaha-usaha yang dilakukan oleh Rahmah el-Yunusiyah melalui berbagai program pendidikan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat kaum wanita. Melalui Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang didirikan atas dasar prinsip-prinsip ajaran Islam serta bercorak modern, Rahmah el-Yunusiyah telah mengorbankan segala daya dan upaya yang dimilikinya demi kemajuan kaum wanita Islam. Di Perguruan ini pendidikan agama Islam mendapat prioritas utama tanpa mengenyampingkan pendidikan umum.
Melihat usaha Rahmah el-Yunusiyah dalam memajukan kaum wanita melalui jalur pendidikan yang bercorak Islami ini tidak salah kalau Hamka mengatakan bahwa Rahmah el-Yunusiyah merupakan pelopor gerakan emansipasi wanita dalam bidang pendidikan agama. Bahkan Zainal Abidin Ahmad menjuluki Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang didirikan oleh Rahmah el-Yunusiyah sebagai lambang pengetahuan wanita Islam, yang para alumninya tersebar di seluruh Indonesia dan Malaysia serta banyak pula di antara mereka yang telah melanjutkan studinya ke Timur Tengah, seperti Mesir, Kuwait, Madinah, dan lain-lain
Dalam sejarah pergerakan wanita di Indonesia nama R.A. Kartini telah tercatat sebagai pelopornya. Bahkan pemerintah Indonesia telah menguatkan posisi R.A. Kartini sebagai pahlawan wanita, yaitu dengan menganugerahkan kepadanya gelar Pahlawan Nasional tahun 1964.
Meskipun telah berpuluh tahun orang memitoskan Kartini sebagai simbol perjuangan gerakan emanispasi wanita di Indonesia, namun peranan pejuang gerakan emansipasi dari Minangkabau tidak dapat dilupakan dalam memajukan kaum wanita. Dalam hal ini misalnya Rahmah el-Yunusiyah telah melakukan usaha-usaha yang sangat berarti dalam mengangkat harkat dan martabat kaum wanita. Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa Rahmah el-Yunusiyah telah berjasa mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama khusus wanita. Sampai sekarang hasil perjuangannya tersebut masih dapat dinikmati oleh anak-anak wanita dalam memperdalam pengetahuan agama khususnya.
Perjuangan Rahmah el-Yunusiyah dalam memajukan kaum wanita tidak sebatas pada ide-ide saja, melainkan telah melakukan aksi nyata dengan mendirikan sebuah sekolah agama khusus wanita. Perguruan ini sangat besar peranannya dalam menentukan langkah sejarah perkembangan gerakan emanispasi wanita di Indonesia. Bahkan Cora Vreede-de Stuers, ahli berkembangsaan Belanda menyarankan agar mempertimbangkan usaha-usaha yang dilakukan oleh Rahmah el-Yunusiyah ini sebagai langkah yang menentukan dan bahkan dapat disamakan dengan penerbitan surat-surat Kartini dan Sekolah Dewi Sartika di Bandung.
Saran dan pandangan Cora Vreede-de Stuers ini cukup beralasan sebagai Rahmah el-Yunusiyah telah melakukan perjuangan yang tak kenal lelah dalam memajukan kaum wanita melalui pendidikan. Pendirian Perguruan Dinyah Putri dilakukannya dengan mengorbankan seluruh hidupnya. Semua pembiayaan sekolah dan dana yang diperlukan untuk keperluan kelancarana proses belajar mengajar diambil dari harta kekayaannya. Kemudian karena harta kekayaannya sudah tidak mampu lagi membiayai sekolah tersebut, beliau melakukan perjalanan keliling keberbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Aceh dan sampai ke semenanjung Malaysia guna mendapatkan sumbangan dana dari masyarakat. Di Semenanjung Malaysia Rahmah el-Yunusiyah sempat memberikan pelajaran agama di istana kepada putra-putri sultan. Dana yang terkumpul dari perjalanan keliling ini dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemajuan perguruan yang didirikannya.
Pada tahun 1932 sampai 1935 Rahmah el-Yunusiyah kembali melakukan perjalanan keliling ke Malaysia sekaligus untuk mengantarkan siswi lulusan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang untuk mengajar di berbagai sekolah di Penang dan Trenggono. Masyarakat Penang dan Trengganu melihat bahwa usaha yang dilakukan oleh Rahmah El-Yunusiah sangat dibutuhkan oleh masyarakat Islam di daerah tersebut sehingga banyak permintaan kepada Rahmah untuk mengirimkan para lulusan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang untuk menjadi tenaga pengajar di sana. Bahkan banyak pula yang menyerahkan putri-putri mereka untuk dididik di Perguruan tersebut.
Untuk lebih mengembangkan dan menyempurnakan sistem pendidikan di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, Rahmah el-Yunusiyah melakukan studi perbandingan ke berbagai sekolah yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Oleh sebab itu kata Deliar Noer tidak heran kalau Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini akahirnya menjadi sebuah sekolah agama wanita yang bercorak modern dan sangat maju. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Kota Padang Panjang dan sekitarnya, melainkan juga berasal dari berbagai propinsi lain di Indonesia bahkan dari luar negeri.
Dalam perkembangan selanjutnya para lulusan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini banyak berkiprah dalam masyarakat, seperti menjadi guru, mubaligh, dan bahkan ada pula yang berusaha mendirikan sekolah dengan nama Diniyah Putri, seperti di Lampung, Jambi dan di daerah lain. Di samping itu ada pula lulusan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini yang menjadi pejabat tinggi negara, seperti Aisah Amini menjadi anggota DPR RI, Puan H. Aisyah Ghani menjadi menteri kebijakan Am atau menteri sosial di Malaysia.
Melihat keberhasilan dari usaha yang dilakukan Rahmah el-Yunusiyah dalam mengangkat derajat kaum wanita melalui pendidikan agama yang bercorak modern tersebut ternyata telah mengundang banyak perhatian dari dalam maupun luar negeri. Berbagai penghargaan diberikan kepada Rahmah El-Yunusiyah. Misalnya pada tahun 1955 Rektor Universitas Al-Azhar sengaja mengadakan kunjungan khusus di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Setelah menyaksikan aktivitas pendidikan di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini, maka Rektor Universitas Al-Azhar tersebut merasa kagum dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan bermaksud pula untuk mendirikan sebuah fakultas khusus untuk wanita di Al-Azhar dengan mengambil pola yang ada di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang.
Atas kekagumanan Rektor Universitas Al-Azhar tersebut, maka Rahmah el-Yunusiyah diundang untuk berkunjung ke Al-Azhar. Atas undangan tersebut maka tahun 1956 setelah melaksanakan ibadah haji Rahmah datang ke Al-Azhar. Dalam kesempatan berkunjung tersebut, Rahmah dianugerahi gelar kehormatan tertinggi oleh pihak Universitas Al-Azhar, yaitu syeikhah. Gelar ini belum pernah diberikan kepada kaum wanita lain, kecuali kepada Rahmah El-Yunusiyah.
Memperhatikan berbagai kemajuan dari keberhasilan Rahmah el-Yunusiyah dalam memajukan pendidikan agama wanita di Minangkabau, di mana murid-muridnya tersebar di hampir seluruh Indonesia, dapat dipahami bahwa Rahmah el-Yunusiyah mempunyai peranan yang sangat penting dalam peta gerakan emansipasi wanita di Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan agama di daerah Minangkabau, Pulau Sumatera dan semenanjung Malaya.
Rahmah el-Yunusiyah sangat menginginkan wanita Indonesia mendapat kesempatan penuh dalam menuntut ilmu pengetahuan, sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu perlu adanya sebuah perguruan khusus untuk anak-anak perempuan yang mempelajari hukum-hukum agama Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar