Selasa, 01 September 2009

MARHABAN YA RAMADHAN

Barangsiapa yang puasa ramadhan dengan iman dan perhitungan (berhati-hati memelihara puasanya) diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR Bukhari & Muslim)

Seluruh umat Islam kini menyerukan 'Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan", selamat datang Ramadhan, Selamat datang Ramadhan. Di masjid-masjid, musholla, media massa, bahkan mailing list dan facebook, ungkapan selamat datang Ramadhan tampil dengan ekpresi yang beragam.
Ramadhan adalah bulan penyemangat; bulan yang mengisi kembali energi jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai 'Shahrul Ibadah' yang bermakna semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai 'Shahrul Fath' (bulan kemenangan) yang bermakna memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) yang diimplementasikan dengan semangat mengajak pada jalan yang benar, pada ajaran Al-Qur'an dan ajaran RAsulullah Saw. Ramadhan sebagai "Shahrus-Salam" yang bermakna perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai 'Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) yang direalisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" yang dihiasi dengan meminta keampunan pada Allah.
Dalam berpuasa, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali (makan, minum, hubungan seksual) dalam waktu-waktu tertentu. Berpuasa, berarti seorang yang melaksanakan puasa mengembangkan potensi untuk membentuk dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. M. Quraish Shihab menyatakan, bahwa 2 (dua) hal utama yang harus diteladani oleh orang yang berpuasa adalah ; pertama, Dia (Allah) memberi makan dan tidak makan (QS.6: 14); kedua; Dia (Allah) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS. 6: 101). Kedua hal itu terpilih untuk diteladani karena keduanya merupakan kebutuhan fa’ali manusia yang terpenting, dan keberhasilan dalam pengendaliannya mengantar kepada kesuksesan mengendalikan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Kebahagiaan dalam pelaksanaan puasa terasa menjadi cita-cita bagi orang yang berpuasa. Apa saja yang menjadi obsesi bagi orang yang berpuasa ? Pertama; yaitu kebahagiaan ketika ia "Ifthar" (berbuka), yakni kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhi keinginan dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekang, maupun kabahagiaan rohani karena terobatinya kehausan sipritualitas dengan siraman-siraman ritualnya dan amal sholehnya. Kedua, kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah kebahagian ukhrawi yang didapatkannya pada saat pertemuannya yang hakiki dengan al-Khaliq. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang ada. Akhirnya, hikmah-hikmah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan di atas, dapat kita jadikan wadah bermuhasabah dan menilai kualitas puasa kita. Begitu banyak aspek-aspek ibadah puasa yang harus diamalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan nilai-nilai positif yang dikandungnya. Seorang ulama sufi berkata "Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum". Ini berarti masih banyak amalan puasa yang tidak sekedar dengan jalan menahan makan dan minum selama sehari penuh.
Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan ibadah-ibadah dengan ikhlas, serta berniat "liwajhillah wa limardlatillah", karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita mendapatkan kedua kebahagiaan di dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun juga memperhatikan kualitas puasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar