Selasa, 01 September 2009

PENINGKATAN PRESTASI IBADAH

Ramadhan Great Sale. Jangan lewatkan : Obral Pahala sebesar-besarnya dengan Diskon dosa hingga 99 % plus doorprize Lailatul Qadr. Buruan! Hanya 30 hari!!

Pernyataan di atas, bak iklan dari sebuah Mall terkenal yang menawarkan potongan harga plus dengan keuntungan yang berlipat dalam waktu tertentu. Jika diambil ibarat, inilah yang dipublikasikan, diklankan Allah Swt dalam al-Qur’an, hadits, dan kisah orang terdahulu. Bagaimana mensiasatinya.
Suatu niat dari awal menjalankan puasa Ramadhan adalah bahwa ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang dilakukan harus dapat merubah dan memberikan hasil yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, dan perubahan dalam kehidupan sosial. Bukankah Allah telah menyatakan : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan (nasib) yang ada pada diri mereka sendiri”.
Bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan di antaranya peningkatan ibadah puasa, peningkatan frekwensi tilawah Al-Quran, peningkatan aktifitas sosial, seperti infaq, memberi makan pada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, serta beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Serta, sesuatu yang tak kalah penting adalah merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif.
Pada bulan Ramadhan syetan dibelenggu, dan hawa nafsu dikendalikan melalui puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah tersebut sangat kondusif untuk bertaubat dan meletakkan fondasi untuk memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur: 31).
Oleh karena itu, pada bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud: 52)
Keseluruhan ibadah dalam bulan Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang atau kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang atau kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan kepada kita semua, sehingga kita dapat beribadah secara maksimal di bulan suci Ramadhan tahun ini. Akhirnya marilah kita berdo’a, “Wahai Pemilik pujian dan sanjungan, wahai Pemilik keagungan dan kebesaran, wahai Pemilik kemuliaan dan derajat, wahai Pemilik janji dan kesetian, wahai Pemilik ampunan dan ridha, wahai Pemilik karunia dan pemberian, wahai Pemilik keutamaan dan ketentuan, wahai Pemilik kemuliaan dan keabadian, wahai Pemilik kedermawanan dan kasih sayang, wahai Pemilik karunia dan kenikmatan. Maha Suci Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau, Pemberi segala pertolongan, selamatkan kami dari api neraka ya Rabb”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar