Selasa, 01 September 2009

NAMIMAH

Alkisah, seorang khalifah menerima tamu di istananya. Ia meminta tolong pada seorang pembantunya untuk membeli bagian daging yang terbaik untuk jamuan makan para tamu tersebut. Pembantu ini adalah seorang yang sangat bijak. Ketika sampai di pasar, pembantu tersebut membeli sepotong lidah kambing. Sang khalifah bertanya, “kenapa engkau membeli sepotong lidah?” Pembantu menjawab, “karena dengan lidah, manusia bisa menyampaikan hikmah dan nasehat.” Keesokan harinya sang khalifah menyuruh dia untuk membeli bagian daging yang terburuk dari seekor kambing. Pembantu yang bijaksana tersebut kembali membeli sepotong lidah.
Khalifah merasa diremehkan oleh pembantunya tersebut, sembari bertanya, “kenapa engkau membeli sepotong lidah lagi?” Pembantu yang arif itu menjawab, “karena lidah seseorang dapat melakukan dosa dan menyebabkan terjadinya peperangan serta perselisihan antar sesama.” Mendengar itu, Khalifah tidak jadi memarahi pembantunya.
Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak boleh menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang telah sangat popular dalam masyarakat menyebutkan bahwa “mulutmu adalah harimaumu.”
Dari fragma di atas, digambarkan bahwa salah satu bentuk kejahatan lisan terbesar adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan, dalam surat al-Maidah ayat 8 Allah berfirman … “dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa …” Sebagian dari kaum muslimin yang memahami bahaya namimah mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian”. Namun hal ini memang sangat sulit, sepandai-pandai menjaga lidah, suatu kali pasti bisa juga tergelincir “salah omong” sehingga menjadikan situasi yang tidak mengenakkan dalam pergaulan sosial. Apalagi ketika kebencian dan hasad (dengki) terdapat dalam hati, maka kondisi ini akan membuat “bias” tindak tanduk yang telah dijaga baik-baik tersebut. Atau meski bisa menjaga lisan (lidah) dari namimah, namun tanpa disadari, terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang.
Sungguh banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan tentang namimah, baik yang berasal dari Al-Qur’an, As Sunnah maupun kesepakatan ulama. Di antara dalil-dalil tersebut adalah “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Hudzaifah RA. disebutkan, “Tidak akan masuk surga tukang adu domba.” (HR. Al Bukhari). Rasulullah SAW. Bersabda : “Sejahat-jahat manusia ialah yang bermuka dua, mendatangi dengan satu wajah dan yang satu wajah dan siapa yang mempunyai dua lidah di dunia maka Allah SWT. akan memberikannya dua lidah api dari api neraka.” Ibn Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”
Imam An-Nawawi berkata, “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: (1) Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik; (2). Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya. (3) Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. (4). Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. (5). Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. (6). Tidak membiarkan diri ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan ia sendiri melarangnya.
Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik, serta suatu pekerjaan yang sangat baik adalah diam daripada berkata yang tidak benar. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dari kejahatan lisan dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kejahatan kemaluanku. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar