Selasa, 01 September 2009

MEMAKNAI KEHIDUPAN

“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (al-Ankabut :64)

Bagaimana menjalani dan memaknai kehidupan (?) Bagaimana manusia harus mensikapi kehidupannya (?) Kehidupan dalam Islam, bukanlah rentang waktu yang pendek, yang digambarkan usia seseorang, atau usia sebagian umat manusia. Namun, juga bukan rentang waktu yang nyata, yang digambarkan dengan usia umat manusia secara keseluruhan.
Kehidupan menurut pandangan Islam adalah suatu rentang panjang dari masa pra natal, natal, dan pasca natal. Perjalanan panjang itu meliputi beberapa periode, baik itu kehidupan nyata – yakni kehidupan duniawi – dan juga kehidupan akhirat. Masa dalam kehidupan dunia berbanding jauh dengan kehidupan akhirat, bahklan digambarkan oleh para agamawan, bahwa kehidupan di alam baqa’ bagaikan hanya satu jam di dunia fana ini. Allah Swt mendiskripsikan kehidupan akhirat dalam al-Qur’an dengan berbagai karakteristik yang jelas, hingga tampak nyatahakikatnya bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Tapi, banyak manusia yang tidak mau memilih kehidupan yang lebih nyata, dan kekal, tapi manusia lebih memilih kehidupan yang fana, yaitu dunia. Ruang kehidupan akhirat pun lebih luas dan panjang dari ruang kehidupan dunia, sebagai salah satu periode (babak) akhir dari rentang kehidupan dunia – di mana kehidupan manusia. M. Dawam Rahardjo dalam membahas terma akhirat ini, bahkan, menyatakan bahwa ia adalah masa depan yang akan diraih, dicapai sebagai salah satu cita-cita kaum muslimin.
Berkenaan dengan hari pembalasan, luas surga dalam kehidupan akhirat sebanding dengan langit dan bumi dalam kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan neraka dalam kehidupan akhirat mampu menampung seluruh orang kafir dalam seluruh masa. Hakikat rentangan kehidupan mencakup kehidupan yang sifatnya familiar, yakni kehidupan akhirat, baik itu di surga maupun di neraka. Suasana yang ada dalam kehidupan akhirat tidak akan bisa dirasakan dan disamakan dengan suasana yang ada dalam kehidupan dunia.
Menurut Mujahid ayat yang disebut di awal paragraf mengungkapkan, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan adalah kehidupan yang tidak ada kematian didalamnya”. Sedang Ibn Jarir menyatakan, yang dimaksud dengan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Tidak ada kesudahannya, tidak interupsi dan tidak ada kematian. Ibn Abu Ubaidah mengemukakan, bahwa yang dimaksud dengan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya. Ia adalah kehidupan yang tidak penuh dengan tipu daya, sebagaimana kehidupan duniawi.
Kisah indah digambarkan dalam kehidupan seorang sufi, Hasan al-Basri yang sangat zuhud terhadap dunia. Al-Basri tidak pernah terkena tipu daya dunia, hidupnya jauh dari perbuatan durhaka, dan senantiasa diliputi ibadah pada Rabbnya. Ia tinggalkan kehidupan dunia, yang dapat melalaikan, dan hanya tipu daya belaka. Hasan al-Basri, benar-benar seorang yang senantiasa terikat dengan akhirat. Ia tidak ingin mengotori kehidupannya dengan pernak-pernik kenikmatan yang menipu sehingga membuatnya terjatuh dalam murka sang Khaliq.
Ketika Hasan al-Basri sedang sakit, saudara-saudaranya dan teman-temannya yang menjenguk merasa heran, karena mereka tidak mendapati apa-apa di rumahnya, tidak ada tikar ataupun selimut, kecuali tempat tidur yang tidak ada apa-apanya. Hasan al-Basri ra. adalah seorang sufi yang penuh dengan kewara’an. Dia mencari tingkat yang luhur dan menjauhkan dirinya dari hal-hal yang mengotorinya. Alangkah indahnya hidup laki-laki yang menahan diri dari selera nafsu dan beraneka ragam kenikmatan dunia. Sementara, tak sedikit manusia yang binasa lantaran memperturutkan hawa nafsunya. Hasan al-Basri menjauhi hawa nafsu yang menyukai segala sesuatu, nafsu yang cenderung kepada aneka kesenangannya yang dapat merusaknya.
Kewara’an Hasan al-Basri sampai ke tingkat ia tidak mengambil gaji dalam tugasnya di bidang peradilan. Tatkala Addi bin Arthat, seorang pejabat Iraq, memberinya uang sebesar 200 dirham, ia menolaknya. Addi mengira pemberian uang itu dianggap kurang oleh Hasan al-Basri. Karena itu, ia menambahnya. Namun, Hasan al-Basri tetap menolaknya. Al-Basri berujar : “Aku menolaknya bukan karena aku memandang uang itu sedikit. Aku menolaknya karena tidak mau mengambil upah dalam memutuskan hukum”, tegas al-Basri. Tidak ada lagi di zaman sekarang manusia yang memiliki sikap hidup seperti Hasan al-Basri, yang zuhud terhadap kehidupan dunia. Manusia modern di saat sekarang ini, justru mengejar kehidupan dunia yang fana, dan sebentar berakhir manusia. Tapi, justru manusia mengagungkan dan memuja kehidupan dunia, yang tidak ada artinya apa-apa di akhirat nanti. Wallahu ‘alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar